Revisi Neom
Revisi Neom--Tomy/Pagaralampos
Hanya ada satu jalan: jalan lurus. Hanya boleh ada dua-tiga bangunan rumah di kiri dan di kanan jalan. Satu atau dua baris gedung saja. Tinggi. Berderet sepanjang 170 km.
Kalau difoto dari atas kota itu nanti hanya seperti garis panjang. Garisnya berupa bangunan. Alangkah efisiennya kota itu nanti. Padahal serba ada: apartemen, kantor, hotel, mal, bioskop, pertokoan.
BACA JUGA:Mulus Banget! Rahasia Layar AMOLED 120Hz Realme 16 5G yang Bikin Betah Scrolling Seharian
Di belakang ”garis” itu hanya ada pemandangan alam. Asli. Alamiah. Khas pemandangan Saudi Arabia bagian utara: gunung-gunung batu. Lembah batu.
Tentu itu bukan pemandangan yang seksi karena gunungnya banyak sekali --bukan hanya dua. Semuanya gunung keras. Sulit pula dijangkau.
Anda pun akan membayangkan: kota sepanjang 170 km. Dari Cawang, Jakarta sampai Subang. Dari Palembang sampai Prabumulih? Dari Makassar sampai Barru? Pokoknya Anda bayangkan sendiri: 170 km.
Jalan rayanya pun tidak kelihatan. Tidak di atas tanah. Jalannya di bawah tanah. Di atas tanahnya rapi. Taman. Tidak ada kendaraan lalu-lalang.
BACA JUGA:Geger! Toyota Alphard XE 2026 Meluncur Lebih Murah, Siap Gusur MPV Menengah di Indonesia?
Di samping jalan raya, di bawah tanah itu juga akan ada jalur kereta cepat. Itulah sebabnya dari ujung kota ke ujung satunya maksimal hanya 20 menit.
Berarti dua tahun ke depan pun saya belum perlu ke Neom lagi. Bukan berarti saya ”kapok”. Saya juga harus berhemat. Tentu, tahun depan mungkin sudah banyak berubah dibanding saat dua tahun lalu saya ke sana. Tapi lebih baik kelak saja. Kalau sudah mulai kelihatan bentuknya.
Saat ini memang terlalu banyak yang harus ditangani Arab Saudi. Gedung tertinggi di dunia, di Jeddah, akan diteruskan. Kali ini saya tidak mampir ke proyek itu. Baru kurang dari tiga bulan lalu saya ke sana.
BACA JUGA:Perang Mobil Listrik Murah Dimulai! Honda Brio EV Rilis, Siap Rebut Takhta dari Wuling Air EV
Harga minyak mentah memang sudah di level 100 dolar per barel. Tapi itu akibat Selat Hormuz ditutup Iran. Sebelum perang harga minyak tidak lagi setinggi saat ide Neom diluncurkan. Dari 100 dolar per barel saat itu menjadi antara 60 sampai 70 dolar. Setelah perang selesai akan kembali turun.
Sebenarnya Saudi tidak mau Amerika Serikat menyerang Iran. Negara mullah itu bisa memainkan jurus mabuk: meluncurkan roket ke berbagai instalasi minyak Saudi --sahabat Amerika. Instalasi minyak Saudi begitu dekat dari Iran --dalam jangkauan persenjataannya.
Kalau pun akibat serangan Amerika itu harga minyak naik bukan Neom yang menikmatinya: Venezuela.