Serangan Fajar
Serangan Fajar--Tomy/Pagaralampos
BACA JUGA:Toyota Fortuner 2026, SUV Tangguh dengan Teknologi Mild-Hybrid 48V, Lebih Irit dan Canggih
Jenderal penting Iran bisa dibunuh di perjalanan di Irak. Nasrullah, pemimpin tertinggi Hisbullah di Lebanon dibunuh lewat udara. Lewat tombol komputer. Pemimpin Hamas bisa dibunuh lewat cara serupa justru saat di negara lain.
Nicolas Maduro diculik jarak jauh.
Tentara sekian batalyon seperti tidak terlalu terpakai. Seolah yang lebih diperlukan hanya angkatan udara. Ditambah angkatan laut.
"Memang perang modern ini membuat kita harus berubah," ujar Djoko Suyanto. Ia seorang marsekal. Bintang empat di angkatan udara. Mantan KSAU. Mantan panglima TNI.
BACA JUGA:Yamaha TMAX 2026, Raja Skuter Premium 560cc dengan Teknologi Canggih dan Performa Sporty
"Tidak boleh lagi hanya membangun angkatan udara tapi harus membangun kekuatan udara," katanya.
Angkatan udara berarti sektoral. Punya egonya sendiri. "Kekuatan udara tidak hanya angkatan udara," tambahnya.
Ia berpendapat kekuatan udara pun tetap berbasis di darat. Dan laut. Pesawat terbang perlu landasan di darat. Rudal perlu peluncur di darat. Dan di kapal di atas laut.
Maka sudah waktunya Kementerian Pertahanan dan panglima TNI menjadi inisiator untuk perubahan itu. Tiap angkatan tidak boleh lagi punya ego sektoral.
Tapi setelah mempertontonkan kecanggihan serangan udara, Amerika ternyata harus memikirkan serangan darat. Amerika tidak mungkin melakukannya.
Bisa terjebak seperti di perang Vietnam. Dengan menggunakan suku Kurdi, Amerika hanya kehilangan uang. Tidak perlu kehilangan nyawa.
Ada dua provinsi yang mayoritas Kurdi di Iran: provinsi Kurdistan dan provinsi Kermanshah –tetangga selatannya. Jarak dari Kurdistan ke Teheran hanya enam jam naik mobil.
Dua provinsi Kurdi itu berupa pegunungan. Tinggi. Dataran rendahnya saja 1.500 meter dari permukaan laut. Apalagi dataran tingginya. Sungguh medan perang yang sulit bagi tentara Amerika.