Google Advertisement Below

Produksi Massal

Produksi Massal--Tomy/Pagaralampos

Toh sudah ada Tarim, Al Azhar, Ummul Quro, dan beberapa universitas laris di Maroko dan Syria. Sudah puluhan ribu mahasiswa Indonesia ke sana tiap tahunnya.

Apakah tidak mereka saja calon ulama kita. Tidak perlu lagi ada UIN dengan gaya lama. Apakah belum waktunya UIN dibubarkan, diganti dengan UIN baru.

BACA JUGA:Bocoran Honda Beat 2026: Desain Lebih Ramping dan Konsumsi BBM Tembus 70 Km/Liter?

Dengan universitas Islam model sekarang (negeri dan swasta) kita akan punya terlalu banyak sarjana agama. Yang kualitasnya umumnya nanggung. Padahal kita lebih perlu banyak sarjana apa saja di seluruh sektor kehidupan manusia masa depan.

Ternyata di forum malam itu banyak mahasiswa yang ikut bicara. Cukup blak-blakan. Berbeda dengan tipikal santri yang tidak berani bertanya.

Pagi sebelum meninggalkan Tarim saya masih berkunjung ke salah satu universitas di sana: Al-Ahgaff University. Hanya satu fakultas, syariah dan hukum kanun. Begitu banyak saya bertemu mahasiswa Indonesia di situ --ternyata 80 persen mahasiswanya dari Indonesia. Selebihnya dari Malaysia, Thailand, dan Brunei. Mahasiswa lokal hanya sekitar 150 orang.

BACA JUGA:Yamaha Aerox Alpha 2026 Hadir dengan Mesin “Turbo” dan Layar Navigasi Google Maps, Skutik Makin Canggih!

Lalu saya sempatkan ke makam Ba'alawi (Sadaat Ba’alawi). Banyak yang ziarah. Hanya nisan-nisan makam ulama penting yang terlihat ditaruhi bunga di atasnya. Bunga kering. Dionggokkan bersama rantingnya yang juga kering. Itulah bunga raihan. Daunnya pun harum. Jenis bunga yang disebut dalam Quran: surah Ar-Rahman ayat 12.

Sebentar saja saya di makam itu. Lalu ke perpustakaan manuskrip yang kaya buku lama di Tarim. Saya kecantol agak lama di perpustakaan. Ini kali pertama saya melihat buku karya ilmuwan kuno Ibnu Sina di bidang kedokteran.

Ada juga buku unik: kalau kalimat-kalimatnya dibaca dari kanan semua mengandung pelajaran tentang kebaikan. Tapi kalau kalimat yang sama dibaca dari kiri semua bercerita tentang keburukan sifat manusia.

Penulisnya itu pasti sastrawan-ilmuwan yang luar biasa. Seluruh halaman buku bisa dibaca seperti itu.

BACA JUGA:Mitsubishi Xpander Hybrid di Indonesia? Pabrikan Beri Klarifikasi Resmi soal Peluncuran

Itu belum seberapa. Masih ada yang lebih hebat. Buku itu bisa dibaca dari atas ke bawah. Semua kata pertama di setiap kalimat bisa dibaca dari atas ke bawah. Membentuk kalimat sendiri. Dengan makna tersendiri. Yang isinya tentang cabang ilmu yang lain lagi.

Bukan hanya kata pertama. Pun kata-kata berikutnya. Bisa dibaca ke bawah. Menjadi satu kalimat tersendiri. Isinya tentang ilmu yang lain lagi.

Dengan demikian membaca satu buku ini sama dengan membaca enam buku yang berbeda cabang ilmunya. Tinggal mau membaca kalimatnya dari arah mana.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google