PT Bukan
PT Bukan--Tomy/Pagaralampos
PT Bukan
Oleh: Dahlan Iskan
KORANPAGARALAMPOS.COM - Orang seperti apa yang lebih cocok memimpin lembaga keuangan: orang yang suka bicara dengan gaya sedikit meledek, atau orang yang cara bicaranya sangat hati-hati --saking hati-hatinya sampai seperti menunggu dulu bunyi tokek untuk mengucapkan kata berikutnya.
Tipe pertama Anda sudah tahu: Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa. Tipe kedua Anda juga sudah tahu: Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar.
BACA JUGA:Kelelawar Membawa Virus Mematikan
Saya sering berada di dekat Mahendra saat ia berbicara di depan umum: dulu. Sudah lama sekali. Setiap kali ia berbicara rasanya saya ingin membentaknya: bisakah bicara sedikit lebih cepat.
Tapi karena menyadari saya kalah pinter maka saya memilih bersabar menunggu datangnya kata berikutnya dari satu kata yang sudah diucapkannya.
Mahendra seperti tidak pernah mengucapkan kalimat. Yang ia ucapkan selalu hanya kata dan kata berikutnya. Kita yang mendengarkanlah yang harus merangkai kata-katanya menjadi kalimat.
Waktu mendengar berita bahwa ketua OJK itu mengundurkan diri, saya tiba-tiba kangen dengan gaya pidato Mahendra. Maka saya tunggu pernyataan pengunduran dirinya.
Jumat petang lalu. Masih sama. Masih tidak lebih cepat. Seperti tidak ada kegawatan apa pun di bursa saham Indonesia yang di bawah pengawasannya.
Apakah gaya bicara seperti itulah yang mempengaruhi cepat lambat cara berpikirnya? Bukankah ada doktrin "orang keuangan tidak boleh banyak bicara"? Berarti gaya Mahendra mestinya cocok untuk memimpin lembaga seperti OJK?
Rasanya tidak ada hubungan antara cara bicara dengan cara berpikir. Buktinya, meski bicaranya begitu lambat Mahendra begitu cepat ambil putusan: mengundurkan diri.
Atau, jangan-jangan ada bentakan dari arah lain yang mempercepat putusan mundur itu. Yang jelas orang seperti Purbaya menganggap putusan mundur itu baik. Tidak terkait dengan sikap kepahlawanan seorang negarawan melainkan agar bisa diambil kebijakan cepat setelah itu.