PT Bukan
PT Bukan--Tomy/Pagaralampos
Muara dari demutualisasi tersebut adalah independensi dan keterbukaan pasar modal. Bukan lagi disetir oleh perusahaan broker saham. Broker bisa berkuasa di BEI karena merekalah pemilik sebenarnya.
Hongkong sudah lebih dulu melakukan reformasi: tahun 2000. Pun Singapura. Waktu itu Hongkong lagi dapat momentum: krisis moneter Asia dan kembalinya HK ke pangkuan T. Momentum itu tidak dilewatkan begitu saja.
Bursa Hongkong langsung 'meledak': dipercaya global sekaligus dipercaya T.
Setelah reformasi itu terjadilah gelombang besar IPO perusahaan T di HK. Dunia pun menyerapnya.
Momentum seperti itu yang tidak ada di Singapura. Bursa Singapura langsung tertinggal kian jauh dari bursa HK.
Kita --saya sering mengetik kata 'kita' di keyboard, ternyata yang muncul di layar 'kota' --juga punya momentum untuk berubah: yakni datangnya ancaman dari MSCI. Ancaman itu berisi: bursa kota akan diturunkan kelasnya dari 'emerging' ke 'frontier' --kelas terbawah.
Kita masih punya waktu: akhir Mei. Empat bulan. Rasanya cukup. Meski Kiki mengucapkan kata abstrak 'secepat mungkin' rasanya tiga bulan selesai.
Kan mudah: tinggal bikin daftar apa yang diinginkan MSCI. Lalu satu persatu diselesaikan. Pakai deadline. Pakai dashboard.
BACA JUGA:Huawei Nova 14 Pro Resmi Masuk RI, Desain Tipis & Kamera Malam yang Menakjubkan
Hanya bila ada 'kepentingan' yang akan menghambat pencapaian target reformasi itu. Meski kita benci pada antek asing apa boleh buat: kita harus penuhi semua itu. Setidaknya sebagian besarnya.
Vietnam juga menghadapi hal yang sama: dengan tujuan berbeda. Kita harus memenuhinya agar jangan diturunkan kelas kita. Vietnam ingin memenuhi kreteria MSCI agar bisa segera naik kelas: ke kelas emerging.
Maka akan ironi kalau Juni depan terjadi lukir Indonesia-Vietnam: ia berhasil naik kelas dan kita justru turun kelas. Vietnam menjadi emerging dan kita turun ke frontier.