Hady Alan
Hady Alan--Tomy/Pagaralampos
Si produsen lantas bertanya lebih dalam lagi: agen mana saja yang penjualannya naik. Tidak sampai lima detik di layar muncul nama agen, nama kota dan angka pencapaiannya.
Tak terbayangkan perusahaan distribusi pun sudah melakukan modernisasi sejauh itu.
"Semua itu hasil kerja anak laki-laki saya," ujar Hady. Dari tiga anak, Hady punya satu yang laki-laki: Alan Karyono. Ia lulusan Amerika Serikat. Jabatan Alan: managing director di Borwita.
Jabatan Dirut memang masih di pegang sang pendiri. "Tapi semua hal sudah Alan yang menangani," ujar Hady.
BACA JUGA:Langkah Polytron di Era Elektrifikasi: Fox 350 Tawarkan Solusi Skuter Listrik Masa Kini
Hady sendiri mulai belajar kerja sejak putus sekolah: SMA Xinzhong ditutup ketika Hady baru setahun sekolah di situ.
Tahun itu seluruh sekolah Tionghoa di Indonesia harus tutup. Hady pun pilih langsung bekerja. Yakni di toko obat milik pamannya.
Tugas pertama Hadi di gudang. Pekerjaannya bungkus-bungkus obat yang akan dikirim ke pemesan. Kalau kebetulan karyawan di bagian pengiriman tidak masuk Hady yang kirim barang. Pakai sepeda.
Papanya sendiri punya toko obat: di Pasar Atom lama. Ia ingin toko papanya maju. Ia usulkan banyak perubahan. Papanya tidak setuju. "Akhirnya saya bikin toko sendiri," kata Hady.
BACA JUGA:Kawasaki Ninja 250SL: Motor Sport Ringan, Irit, dan Bikin Deg-degan
Hadi pun kerja keras. Usahanya maju. Sampai bisa mendirikan PBF --Pedagang Besar Farmasi. Sampai punya pabrik tetes mata yang Anda sudah pakai: Aito. Sampai menjadikan Borwita seperti sekarang ini.
Alan masih akan mengembangkan Borwita ke bisnis makanan siap saji. Yakni makanan khas Indonesia. Ups...bukan baru "akan". Alan sudah memulainya. Dimulai dari rendang. Lalu kare. Lalu lain-lainnya.
Yang menarik, makanan itu tidak perlu dipanasi dulu. Bisa langsung dimakan.
BACA JUGA:Yamaha Freego 125: Skutik Ringkas, Praktis, dan Irit untuk Aktivitas Harian