Asta Cashtry

Asta Cashtry--

Dia tidak heran kalau wajah penderita SJS berubah. "Itu disebut wajah moon face", katanyi. Itu dampak dari obat untuk mengendalikan SJS.

Kalau lagi tidak ada bencana Cashtry terjun ke daerah-daerah kritis stunting. Objek utamanya di kepulauan Nias. Di situ Cashtry bekerja sama dengan gereja BNKP.

Awalnya saya menebak BNKP itu singkatan dari Batak Nias Kristen Protestan. Ternyata salah. Inilah yang benar: Banua Niha Keriso Protestan.

Anda sudah tahu apa arti Banua Niha: Tanah orang Nias. Keriso adalah Kristus. Itulah gereja terbesar di seluruh Nias. Di situ Cashtry sekaligus melakukan penelitian. Disertasi doktornyi diambil dari situ. Banyak sekali Cashtry menulis jurnal ilmiah dari Nias.

BACA JUGA:Daihatsu Luxio 2026, MPV Kabin Luas Serbaguna, Cocok Keluarga dan Usaha, Ini Spesifikasinya!

Cashtry sendiri orang Medan. Ayahnyi keturunan Afganistan. Ibunyi: Tionghoa dari Pontianak. Karena itu dia pernah ke Afganistan. Dua kali. Masih punya keluarga di sana. "Kalau ke Pontianak sering," katanyi.

Gelar dokternyi sendiri diperoleh dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU). Di UISU pula master dan doktornya.

Cashtry sudah kaya dari sono-nya: ayahnyi pengusaha tambang.

Meski satu meja dengan tokoh-tokoh Asta Cita saya tidak sempat ngobrol soal itu. Padahal saya ingin sekali tahu komentar mereka: apakah Asta Cita masih tetap dipegang oleh pemerintah --setelah lebih satu tahun berkuasa. Atau senasib dengan Nawa Cita dan Revolusi Mental di pemerintah yang lama.

BACA JUGA:Suzuki Jimny Mini Truck 2026, Jawara Medan Ekstrem dengan Dimensi Kompak, Ini Keunggulannya!

Masih ada waktu.

Mungkin lusa. Atau di lain hari --maafkan Koes Ploes.(Dahlan Iskan)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan