Amang Tabung

Amang Tabung --Tomy/Pagaralampos

Maka si Semarang konsultasi dengan Prof Amang. Akhirnya diputuskan: bayi tabung lagi. Pakai embrio lama.

Embrio yang satu sudah jadi anak yang kini berumur delapan tahun. Embrio satunya dikeluarkan dari laci pembekuan.

Lahirlah anak kedua dari proses bayi tabung lagi –dengan embrio stok lama. Maka pada dasarnya anak pertama dan anak kedua itu anak kembar. Hanya selisih umur mereka delapan tahun.

BACA JUGA:Toyota Sienna 2026 Resmi Hadir, Minivan Hybrid dengan Fitur Standar Lebih Lengkap

Amang juga bisa mengerjakan satu bayi dengan orang tua tiga atau empat orang. Tapi ia tidak mau mengerjakannya. Meski secara ilmu pengetahuan itu sudah bisa ia lakukan, nurani dokter asal Jember ini belum bisa menerima.

Misalnya: embrio dari satu orang dikawinkan di lab dengan sperma laki-laki siapa pun. Lalu benih itu ditaruh di kandungan wanita yang lain lagi yang ingin punya anak.

Kini, kata Prof Amang, juga sudah bisa dilakukan: embrio bibit unggul dari wanita tertentu disimpan. Siapa boleh memakainya.

Embrio unggul itu –setelah dibuahi sperma unggul– ditanam di kandungan seorang wanita yang ingin punya anak unggul.

Lantas, anak siapakah itu?

BACA JUGA:Toyota Kijang 2026, Evolusi Mobil Keluarga Legendaris dengan Teknologi Hybrid Modern

Tetap anaknyi yang menghamilkan. Karena bayi itu tidak akan hidup kalau tidak dihamilkan. Darah yang mengalir ke janin itu pun dari darah ibu yang mengandungnya.

Entahlah.

Etika lain yang tetap dijunjung Amang adalah: berapa jumlah embrio yang ditanam. Prof Amang tetap hanya mau menanam dua. Paling banyak tiga. Kemungkinannya: bisa gagal semua. Bisa berhasil satu. Berhasil dua. Atau kembar tiga.

Kini mulai ada wanita –atau suami istri– yang minta ditanam sebanyak yang bisa. Misalnya sampai tujuh embrio.

BACA JUGA:Mini Tapi Bikin Gemas! Suzuki Twin Disulap Jadi R32 GT-R ‘Gemoy’ di Tokyo Auto Salon 2026

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan