Amang Waron
Amang Waron --Tomy/Pagaralampos
BACA JUGA:Yamaha Zuma 125 2026, Skuter Adventure Irit Bahan Bakar dengan Desain Tangguh
Misalnya di lantai 7: ada The Cell. Ditulis dengan huruf besar. Perusahaan The Cell milik bersama Prof Dr Brahmana dan Amang --atau PT-nya Amang.
The Cell bergerak di bidang ongkologi --Brahmana adalah ahli kandungan yang juga ahli kanker. The Cell sudah seperti rumah sakit kanker dengan ukuran satu lantai.
Lalu di lantai lain ada merek Falma. Pemilik perusahaan Falma adalah dr Fransiscus Hari Prasetyadi SpOG Subsp FM. Bergerak di bidang kehamilan. Pemegang saham Falma adalah dr Fransiscus bersama Amang. Falma sudah seperti rumah sakit khusus obgin dengan ukuran satu lantai.
Ada lagi merek Asha --kabarnya singkatan dari Amang Surya dan Haji Ali. Di perusahaan Asha, pemegang sahamnya Haji Ali dan Amang. Perusahaan Asha bergerak di bidang bayi tabung.
Perusahaan-perusahaan itu menyewa tempat di RS Waron. Fasilitas mereka ditangani oleh perusahaan rumah sakit.
Rumah sakit itulah yang sepenuhnya milik Amang dan istri --seorang dokter forensik asal Lampung; berdarah Lampung-Minang.
Datangnya mimpi Amang seperti itu muncul dari penderitaan sedalam masa kecilnya. Ayahnya sopir. Punya anak enam --Amang anak keenam. Ayahnya meninggal ketika Amang baru berumur 2,5 tahun. Ia anak yatim. Kelahiran Jember.
Dengan segala upaya ia bisa kuliah di Surabaya: Unair. Di pondokan ia satu kamar dengan anak senasib dari Jember: kini terkenal dengan nama Prof Dr Dwikora --ahli ortopedi lulusan Unair-Jepang.
Amang sendiri mendapatkan spesialis kandungan dari Universitas Sriwijaya, Palembang. Lalu kembali ke Unair untuk S-3. Keahlian bayi tabungnya didapat dari berbagai pendidikan di banyak negara.
Amang suka bergurau soal mengapa lulusan Unair kuliah spesialis jauh-jauh ke Unsri. "Kalau mendaftar di Unair saya pasti tidak diterima," katanya. "Saya harus tahu diri. Saya baru bisa lulus jadi dokter lewat ujian ulangan," katanya.
"Kalau Amang lulus terbaik tidak akan jadi pengusaha sukses seperti sekarang," komentar dr Gregorius Agung Himawan