Amang Waron
Amang Waron --Tomy/Pagaralampos
Nama Waron ternyata diambil dari nama lokasinya: di jalan Kali Waron. Tidak jauh dari perumahan elit Kertajaya Indah dan Dharmahusada Indah.
BACA JUGA:Mitsubishi Destinator 2026, SUV 7 Penumpang Premium untuk Pasar Asia Tenggara
Di situ ada Jalan kembar. Dipisahkan oleh sungai. Yang di selatan sungai bernama Jalan Kali Waron. Yang di utara sungai disebut Jalan Kali Kepiting.
"Untungnya RS ini di selatan jalan. Bisa saya beri nama RS Waron," ujar Amang. "Kalau di utara jalan bisa-bisa namanya RS Kepiting," guraunya.
Saya sebut hebat karena satu mimpi Amang ini mengandung tiga mimpi sekaligus: merekrut dokter paling hebat, diberi alat paling hebat, dan harus punya sistem tim yang hebat.
Yang terakhir itu yang masih agak langka di Indonesia: sistem tim. Secara perorangan dokter Indonesia tidak kalah hebat dari yang di luar negeri. Pun peralatan: bisa beli --kalau mau dan mampu.
BACA JUGA:Toyota Land Cruiser 2026, Kombinasi Performa Off-Road Tangguh dan Kemewahan Modern
Tapi di bidang tim kerja, ada kendala yang berat. Khas Indonesia. Lebih tepatnya: khas para pemilik profesi. Yakni: ego personal.
Dokter itu gampang merasa paling hebat. Akarnya sudah sering saya tulis: kata ”profesi”. Profesi berbeda dengan pekerjaan. Salah satu ciri profesi adalah: otonomi. Orang yang di profesi punya otonomi untuk melakukan sesuatu atau tidak mau melakukan sesuatu.
Dokter sudah biasa otonom. Mendarah mendaging. Atasan pun bisa tidak dituruti. Bahkan bisa dilawan --kalau dirasa tidak sesuai dengan keilmuannya. Apalagi pasien: tidak mungkin boleh punya pendapat di bidang sakitnya.
BACA JUGA:Tetap Irit dan Andal! Yamaha Mio Gravis 2026 Hadir Lebih Mewah
Di Waron, hanya dokter yang seide dengan Amang yang dijadikan partner. Yakni dokter yang sudah nenyadari bahwa ego tidak boleh dimanjakan.
Amang sudah menemukan empat dokter jagoan yang ia inginkan. Rencanya kelak bisa 11 orang. Empat jagoan itu tidak diperlakukan sebagai karyawan. Atau anak buah. Empat-empatnya diminta sebagai partner usaha.
Caranya, empat dokter itu masing-masing mendirikan perusahaan. Dokter Amang ikut punya saham di empat perusahaan tersebut.
Masing-masing perusahaan boleh membawa merek mereka sendiri-sendiri ke RS Waron. Boleh pula mengembangkan merek semaksimal mungkin --tidak harus merek Waron yang dikibarkan.