Google Advertisement Below

Hitung Mundur

Hitung Mundur oleh Dahlan Iskan--Tomy/Pagaralampos

Detik-detik pelantikan Zohran Mamdani di tangga stasiun kereta bawah tanah City Hall, New York.--

Sebenarnya terlalu indah stasiun City Hall untuk ditutup. Seindah stasiun kereta api di kota Washington DC. Atau di pusat kota Paris.

Atapnya melengkung bermozaik indah. Gaya arsitekturnya adalah Beaux-Arts. Beaux Anda sudah tahu: bahasa Prancis yang artinya cantik.

Meski stasiunnya ditutup tapi jalur rel kereta bawah tanahnya masih dipakai. Hanya saja keretanya tidak lagi berhenti di situ. Cahaya di situ yang dulunya gemerlap juga dimatikan.

Ketika kereta Anda melewati stasiun itu Anda tidak merasakan sedang lewat di bekas stasiun yang bersejarah.

Ini termasuk stasiun yang umurnya pendek: hanya 40 tahun. Mulai dibangun tepat tahun 1.900 baru selesai empat tahun kemudian. Atau, sebenarnya, perkembangan kota New York-lah yang terlalu cepat. Lebih cepat dari rencana, sehingga stasiun cantik itu tiba-tiba tidak cukup lagi.

Sejak ditutup stasiun City Hall hanya untuk dilestarikan. Masih boleh dikunjungi turis tapi secara terbatas. Acara-acara khusus juga masih boleh dilakukan di situ tapi jarang –seperti untuk pelantikan wali kota baru kemarin.

Yang hadir di pelantikan itu memang tidak banyak. Tidak sampai 50 orang. Itu disebut pelantikan pribadi. Hanya petugas, keluarga dan teman terdekat yang hadir. Setelah itu barulah diadakan pelantikan ceremonial. Pelantikan politik. Tempatnya di lapangan terbuka.

Yang juga menarik, di saat pelantikan tengah malam kemarin, Zohran hanya didampingi dua wanita. Di kanannya: petugas wanita yang membacakan sumpah. Zohran menirukan pembacaan itu per kalimat.

Saat mengucapkan sumpah itu tangan kiri Zohran berada di atas Alquran kecil yang dipegang seorang wanita modis dengan kategori tujuh ''i'': istrinya.

Istri Zohran memang istimewa. Cantiiiiiiiknyi. Anggunnyi. Quran itu pun istimewa. Inilah wali kota pertama New York yang bersumpah dengan Quran –Anda sudah tahu: Zohran wali kota beragama Islam pertama.

Quran itu sendiri dipinjam dari perpustakaan umum milik Pemkot New York. Di perpustakaan itu ada satu blok yang disebut Arturo Schomburg Center. Isinya: 4.000 buku dan artefak koleksi almarhum Arturo Alfonso Schomburg.

Setelah Arturo meninggal di tahun 1938, koleksi itu dibeli oleh perpustakaan umum New York –menjadi daya tarik yang istimewa.

Arturo adalah sejarawan otodidak New York asal Puerto Rico campuran Jerman. Ia sejarawan kulit hitam. Ia dikenal tekun mengumpulkan naskah-naskah kuno dari Afrika. Atau yang terkait dengan Afrika.

Setelah mempelajari sejarah itu Arturo membuat seruan ini: orang kulit hitam harus memahami masa lalu mereka untuk menentukan masa depan. Kesimpulan lain darinya: kulit hitam punya peradaban yang tinggi –tidak seperti yang distigmakan oleh Barat.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google