Peak Halimun
Peak Halimun--Tomy/Pagaralampos
Peak Halimun
Oleh: Dahlan Iskan
KORANPAGARALAMPOS.COM - Malam itu sudah 10 jam saya di dalam mobil. Di jalan yang nilainya lima. Sudah terlalu sore berangkat dari Bungku, ibu kota Morowali.
Begitu tiba di Tentena jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. "Kita tidak jadi ke Poso. Kita tidur di Tentena saja," kata saya pada suami Mega.
Belum pula makan malam.
BACA JUGA:Kamu Suka Ngevloq? Samsung A54 Cocok Buat Kamu Coba
Sambil cari-cari hotel kami makan malam. Ada resto ikan bakar yang terkenal: resto di atas air pinggiran Danau Poso. Tapi danaunya sudah gelap. Tidak bisa lihat keindahannya.
Sambil makan, kami menemukan hotel di pinggir danau. Kami tidak sempat melihat apa komentar netizen soal hotel itu. Yang penting: ambil kamar yang paling mahal di situ. Logikanya: mahal=baik.
Ternyata seharusnya kami pilih kamar yang harganya murah saja. Kamar yang mahal itu = jarang ada yang menempati. Jarang dibersihkan. Apek. Tidak terawat.
Apa boleh buat. Toh hanya untuk tidur. Hanya lima jam. Pukul lima pagi sudah harus berolahraga.
BACA JUGA:WOW! Prosesor Samsung Galaxy A05 Ternyata Melebihi Iphone
Sepagi itu ufuk timur Tentena sudah benderang. Kamar itu ternyata menghadap ke danau. Ke ''anak danau''. Danaunya yang luas sendiri di sebelah anak danau itu.
Ini kali kedua saya ke Danau Poso. Yang pertama dulu untuk melihat proyek pembangkit listrik tenaga air di situ: kenapa tidak kunjung selesai.
Padahal terjadi kelangkaan listrik yang akut di Sulteng –dan seluruh Indonesia. Kami temukan akar masalah. Lalu selesai.