Ira Fatana
Ira Fatana--Tomy/Pagaralampos
Hampir jam delapan malam kami baru mulai makan. Di Pacific Place. Hiasan Natal selalu sangat menarik di lobi mal tersebut.
BACA JUGA:Ringankan Beban, Cegah Putus Sekolah
Ups... Ira bertemu teman lamanyi di situ. Juga berjilbab. Sama cantiknyi. Mereka berangkulan lama. Saling menyapa. Berangkulan lagi. Ira menahan tangis.
Berangkulan lagi. Lalu si teman bikin video call dengan keluarganyi untuk menunjukkan siapa yang sedang bersamanyi. Ira dan wanita itu lantas asyik bicara dalam bahasa Sunda.
"Siapa dia?" bisik saya setelah Ira meninggalkan temannyi itu.
"Aduh, kuper banget. Dia kan Reza.....," kata Ira tentang penyanyi terkenal itu. "Memang agak beda ya dengan di panggung...," tambah Ira.
BACA JUGA:Ringankan Beban, Cegah Putus Sekolah
Kami pun berjalan keluar mal.
"Saat di tahanan, jam sekian ini apa yang Anda lakukan?"
"Yah... membaca. Atau mengaji," ujar Ira.
Dia tidak ingat lagi sudah berapa kali khatam (membaca sampai tamat) Alquran yang terdiri dari 6666 ayat itu.
BACA JUGA:Perkuat Pelindungan Pekerja Migran
Dia sering berhenti lama setiap kali sampai surah Ad-Dhuha. Lalu membacanya lagi berulang. Merenungkan artinya.
Ira memang membawa Quran ke tahanan. Quran dengan terjemahan dalam bahasa Inggris. "Surah itu saya rasakan seperti menyindir saya banget," kata Ira.
Dia memang tumbuh di keluarga pesantren. Karena itu setiap salat lima waktu Ira-lah yang jadi imam. Ada delapan tahanan wanita bersamanyi, satu yang Kristen.