Jembatan Merah
Jembatan Merah--Tomy/Pagaralampos
BACA JUGA:Satlantas Polres Pagar Alam Raih Penghargaan Terbaik
Sekitar 10 km setelah meninggalkan kota Sentani masih terlihat tugu lama yang kecil itu. Tugu helikopter. Sudah tidak terawat.
Itu patung untuk menandai jatuhnya helikopter yang dikemudikan suami pertama Megawati Soekarnoputri. Ia tewas di danau itu.
Sebenarnya jarak Sentani-Jayapura sudah dibuat lebih pendek: Presiden Jokowi sudah membangun jalan by-pass. Panjangnya 3,7 km.
Itu bisa mempercepat waktu setengah jam. Tidak perlu lagi ikut lika-liku bukit terliku.
BACA JUGA:Lapas Kelas III Pagar Alam Gelar Penyuluhan Hukum Pada Warga Binaan
Tapi sudah lima tahun jalan itu ditutup –tertimbun longsoran tebing. Belum ada perbaikan hingga sekarang.
Kalau Sentani punya danau, Jayapura punya teluk. Teluknya tidak kalah indahnya. Perpaduan antara teluk dan gunung-gunung di Jayapura itu sungguh tidak dimiliki kota lain di Indonesia.
Teluknya begitu tenang. Itu karena di mulut teluk terpajang gugusan pulau-pulau kecil.
Pulau-pulau itu menambah-nambah pula keindahan teluk Jayapura. Juga menjadi penghadang ombak alami dari Samudera Pacific.
BACA JUGA:Hotel Garuda ZZ di Pagaralam Tawarkan Kenyamanan Lengkap
Hotel tempat saya menginap di bibir keindahan teluk itu: Swiss-Bell Hotel. Dulu tidak ada hotel ini. Kamar saya seperti mepet airnya.
Dari kamar saya sudah langsung terlihat air nan jernih. Di kejauhan terlihat dua pulau kecil –salah satunya ditancapi salib besar.
Di sudut lain jendela terlihat bukit tinggi. Di puncaknya terbaca tulisan ini: I Love Jayapura City. ''Love''-nya pakai gambar hati.
Di malam hari tulisan itu terlihat lebih indah: berupa lampu putih bercahaya. Gambar hatinya warna merah. Cahayanya memantul ke permukaan laut berkelindan dengan pantulan cahaya-cahaya lampu lainnya.