Satu Triliun
Satu Triliun --Tomy/Pagaralampos
Di situ kami pun berdiskusi soal masa depan Syahida. Rektornya, Prof Dr Asep Saipudin Jahar, hadir. Berserta seluruh wakil rektor. Juga para dekan dan ketua jurusan.
Pokoknya: bagaimana caranya UIN Syahida ke depan kian terpandang.
"Seberapa besar keinginan menjadi PTNBH itu?"
"Besar sekali," jawab Prof Asep.
"Skala satu sampai 10?"
"Sepuluh," jawabnya.
BACA JUGA:Pastikan Penggunaan Anggaran Sesuai Ketentuan
Prof Asep (asli Pandeglang, Banten), alumnus pondok modern Gontor Ponorogo. Lalu masuk IAIN Syahid: jurusan perbandingan mazhab. S-2-nya di McGill, Kanada. Sedang doktor bahasa Arab dan filologinya di Leipzig, Jerman.
Prof Asep mungkin bukan pemikir keagamaan tingkat tinggi seperti beberapa rektor Syahida sebelumnya --Prof Harun Nasution, Prof Azyumardi Azra, Prof Komarudin Hidayat. Tapi ia bertekad bisa membawa UIN Syahida ke jenjang PTNBH.
Menurut Prof Asep ada tiga UIN yang bisa berangkat bersama-sama ke PTNBH --bersama UIN Sunan Ampel Surabaya dan UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang.
BACA JUGA:Percepat Pembangunan Sosial Ekonomi
Tantangannya hanya satu: bisa dianggap terlalu komersial. Maka UIN Syahida lagi merumuskan bagaimana membuat aspek ibadah dan bisnis bisa seimbang.
Tapi itu dialami tidak hanya oleh UIN. Semua lembaga pendidikan Islam menghadapi tantangan serupa. Pun di lembaga pendidikan Kristen.
Tapi realitas di masyarakat memang sudah berubah. Sekolah yang mahal justru dikejar --dengan alasan mutu. Mereka punya cukup biaya untuk meningkatkan kualitas fisik, mutu pendidikannya sampai ke mampu mengadakan guru terbaik.