Hemat Syarikah

Hemat Syarikah--Tomy/Pagaralampos

"Insya Allah tidak," ujar Gus Irfan, putra kiai cum politikus terkenal Yusuf Hasyim dari pesantren Tebuireng, Jombang itu.

"Sudah kita perbaiki. Tahun ini tidak lagi menggunakan delapan syarikah. Hanya dua saja," ujarnya.

BACA JUGA:Perempuan Harus Jadi Teladan dan Kekuatan Pembangunan

Pembagian tugasnya didasarkan pada lokasi pemberangkatan. Bukan dari nomor urut pendaftaran haji.

Misalnya Jakarta-1, Medan, dan Bandung ditangani EO A. Lalu Surabaya, Makassar, Palembang diserahkan ke EO B. Daerah lainnya dibagi antara A dan B.

Penunjukan dua syarikah itu didasarkan hasil tender terbuka. "Tendernya berlangsung bersih," katanya.

"Banyak yang berusaha lewat jalur belakang?"

BACA JUGA:Polres Pagaralam Siap Gelar Operasi Zebra Musi 2025

"Tentu. Banyak yang ingin bertemu saya. Tapi tidak ada yang saya temui," katanya. Bahkan ia marah karena ada yang datang membawa amplop.

"Tidak sumpek? Kan harus ngemong banyak pihak?"

"Saya nyaman saja. Kalau ada dari kalangan NU yang datang, saya tinggal bilang saya ini jadi menteri tidak mewakili NU.

Demikian juga kalau dari kalangan Muhammadiyah yang datang ke wamen," ujar Irfan. "Kami berdua ini dari Gerindra," tambahnya.

BACA JUGA:Polres Pagaralam Siap Gelar Operasi Zebra Musi 2025

Irfan memang tokoh NU. Sedang Wamen Dahnil Simanjuntak tokoh Muhammadiyah. Tentu banyak juga, di masa lalu, angin itu bukan hanya datang dari samping tapi ada juga petir dari atas.

"Saya tidak tahu. Tahun lalu saya belum menjadi menteri. Yang jelas tahun ini Presiden Prabowo tegas. Tidak boleh main-main," ujar Gus Irfan.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan