Angsa Hitam

Angsa Hitam--Tomy/Pagaralampos

Yakni untuk menggambarkan ketidakberdayaan pemimpin puncak karena hilangnya dukungan. Atau pemimpin yang tidak lagi dipatuhi karena masa jabatannya akan berakhir.

Awalnya istilah ''bebek pincang'' lahir dari bursa saham di Inggris. Yakni untuk menggambarkan orang-orang yang ''kalah'' dalam perdagangan saham.

Mereka meninggalkan bursa dengan loyo dan tertatih seperti bebek pincang yang tidak lagi mampu membebek di belakang rombongan.

BACA JUGA:Selakopi, Pendatang Baru yang Jadi Primadona Pecinta Minuman Kekinian

Di politik istilah itu muncul untuk menggambarkan ''pincangnya'' fungsi seorang presiden yang masih menjabat tapi sudah kalah Pemilu.

Dari situ muncul aturan di mana-mana untuk memperpendek ''presiden lame duck''.

Di Indonesia ''periode lame duck'' itu masih sangat lama: enam bulan. Belum ada perubahan. Di bulan Juli, presiden baru terpilih, Januari baru dilantik.

Masa ''lame duck'' tidak terjadi di periode pertama presiden yang terpilih untuk masa jabatan berikutnya.

BACA JUGA:Pagar Alam Raih Juara I Literasi Budaya di Festival Literasi Sumsel 2025

Andi Widjajanto menjadi bintang di seminar itu. Ia seperti ayahnya: Jenderal Theo Syafi'i. Sulit tersenyum, dingin, hanya bicara seperlunya, tapi analisisnya tajam.

Almarhum Theo adalah jenderal intelektual di TNI yang seumur hidupnya lebih banyak di dunia intelijen.

Di masa purnawirannya, Theo aktif sebagai pemikir dan tokoh PDI-Perjuangan. Pun Andi Widjajanto, kini di DPP partai banteng itu.

Skenario Angsa Hitam itu muncul bukan hanya karena tampilnya Trump. "Stabilitas dunia kini seperti ditentukan hanya oleh tiga orang.

BACA JUGA:Mobil Listrik Hebat yang Bisa Ngecas Sendiri Waktu Hujan Turun

Donald Trump, Xi Jinping, dan Vladimir Putin," katanya. Tiga-tiganya sosok yang sulit diprediksi. Perang dunia ketiga bisa datang dari hubungan tiga orang itu.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan