Cium Kaki
Cium Kaki Oleh: Dahlan Iskan--Tomy/Pagaralampos
Cium Kaki
Oleh: Dahlan Iskan
KORANPAGARALAMPOS.COM - Spontan. Saya mau mencium kakinya. Di depan umum. Di depan para pengusaha besar Tionghoa di Jakarta.
Begitu besar rasa terima kasih saya pada orang tua itu: The Nin King. Yang jenazahnya dimakamkan hari ini. Di pemakaman keluarga. Di Cipanas.
BACA JUGA: Gubernur Herman Deru Tekankan Kekompakan ASN untuk Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat
Cium kaki itu karena Pak The Nin King memenuhi permintaan saya: menyelamatkan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali. Proyek itu sudah telantar sekitar 20 tahun.
Berbagai upaya meneruskannya gagal. Separo badan patungnya sudah terpasang --bagian bawah. Sedang bagian atas dan kepalanya masih berserakan di tanah.
Melihat gerakan saya akan mencium kakinya Pak The menghindar. Yang penting ia tahu bahwa saya tulus berterima kasih padanya.
Rabu kemarin saya mesong ke tempat persemayaman jenazah Pak The. Di Grand Heaven Jakarta. Lantai dasar rumah kematian itu dibuka semua.
BACA JUGA:Kompak Menolak Gelar Pahlawan untuk Soeharto
Hanya untuk pelayat satu jenazah Pak The --biasanya dibagi untuk enam jenazah.
Itu pun masih belum cukup. Orang yang mesong terlalu banyak. Sebagai pengurus PSMTI saya harus mesong dengan baju putih.
Kebetulan seragam baru Wali Amanah Universitas Terbuka warna putih. Saya buka plastiknya. Saya pakai lengkap dengan bekas lipatannya.
Saya memberi hormat tiga kali di depan peti jenazah. Lalu hormat sekali ke serong kanan. Dan sekali ke serong kiri. Di kanan kiri peti itu berjajar keluarga Pak The.