Hati Hitam

Hati Hitam Oleh Dahlan Iskan--Tomy/Pagaralampos

Ada yang mengontrol botol infus di gantungannya –lalu menambah satu botol lainnya. Ada yang memasang selang oksigen di lubang hidung Mas Olik.

Satu lagi yang harus selesai sebelum saya pulang: sewa apartemen. Janet bisa mencarikan. Tapi saya harus tahu lokasi dan kondisinya. Justin bisa membantu proses administrasinya.

Juga membantu di mana bisa membeli perabotan apartemen.

Janet ternyata bisa mendapatkan apartemen persis di depan rumah sakit. Di seberang jalan. Hanya saja jalannya memang lebar sekali. Dua arah. Tidak masalah. Di dekat gerbang RS itu ada jembatan penyeberangan.

BACA JUGA:100 Mahasiswa ITPA Turun ke Masyarakat

Di situ ada lift. Tidak perlu naik tangga. Setelah menyeberang ada lift lagi untuk turun.

Kami pun ke kantor real estate di blok sebelahnya. Transaksi dilakukan. Saya putuskan sewa sekaligus tiga bulan. Saya ingin, setelah transplant kelak, Mas Olik jangan cepat-cepat pulang.

Tinggal dulu di apartemen itu tiga bulan. Saya tidak ingin terjadi kegagalan akibat sembrono di perawatan pasca transplant.

BACA JUGA:Gali Potensi Unggulan Tiap Kelurahan

Apartemen itu tiga kamar. Di lantai 4. Enak. Tidak terlalu tinggi. Saya sempat khawatir jangan-jangan dapat kamar di lantai 38. Posisi gedungnya pun yang paling depan.

Di dalam kompleks itu ada sekitar 50 gedung tinggi yang tipe dan tingginya sama. Berarti ada sekitar 3.000 orang yang tinggal di satu ''RT'' depan rumah sakit itu.

Rasanya tidak ada lagi yang dikhawatirkan dari Mas Olik. Tinggal hanya harus lebih sabar menunggu izin transplant.

Dua hari setelah tiba di Indonesia saya dapat kabar: cairan di perut Mas Olik dikeluarkan. Mas Olik merasa lebih enak –enaknya orang sakit.

BACA JUGA:Pertahankan Daya Beli, Jaga Kestabilan BBM dalam Negeri

Wajahnya tetap menghitam tapi dokter mengatakan tidak perlu dikhawatirkan. Infus albumin akan dilakukan sampai saatnya transplant tiba.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan