Deklarasi Doha, dan Perubahan Konstelasi!

Deklarasi Doha, dan Perubahan Konstelasi!--Net

Serangan Israel atas nama "membasmi" musuh (Hamas), bagi Qatar merupakan pola pikir 'lateral'. Sudut pandangnya tidak konvensional. Mengapa? Karena dilakukan di negara, di mana terdapat pangkalan militer terbesar sang "patron" (pelindung) keduanya.

Selama ini, negara-negara Teluk (Termasuk Arab Saudi), sangat yakin. Keamanan dan stabilitas mereka bergantung pada AS. Keberadaan CENTCOM (komando tempur terpadu) AS di Sayliyah (2002, Qatar), lalu pindah ke Al Udeid (2009, Qatar), membuat stabilitas GCC jadi terjaga.

Apa boleh buat! "Psikopatisme", pemimpin Israel, yang sangat dipengaruhi dua sekutu koalisi PM Benyamin Netanyahu: Ittamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich. Membuat negara GCC ter-"abrasi" keyakinannya. AS bukan "dewa keamanan" lagi!

Qatar sesungguhnya, telah bersikap "cover both side" (sisi seimbang) terhadap Israel-Hamas. Di pagi serangan (The Times Of Israel, 13 Agustus 2025), PM Qatar, Mohammed bin Abdulrahman al-Thani.

Bertemu dengan keluarga-keluarga warga Israel yang ditahan (Hamas) di Gaza. "Kami sangat mengandalkan upaya Qatar, dan tak punya harapan lain,"kata keluarga Israel kepada PM al-Thani.

BACA JUGA:Bupati Empat Lawang Lantik 62 Pejabat Baru

Sehari sebelumnya, PM al-Thani, telah bertemu pula dengan delegasi Hamas, sambil mendesak. Agar mereka menerima proposal gencatan senjata AS yang telah disetujui Israel.

Sayangnya, upaya "hampir" berhasil membebaskan sandera Israel yang ditahan Hamas, pupus. Serangan rudal Israel di pertemuan Hamas, saat membahas upaya Qatar. Lancung!

Membom Doha! Israel telah menabrak cermin, yang telah diciptakannya sendiri. Delegasi perundingan Israel yang bolak-balik Tel Aviv-Doha, atau Yerusalem-Doha atas prakarsa Qatar-Mesir-AS, 'linear' sebagai bentuk kepercayaannya pada negara kaya 'oil and gas' ini, sebagai penengah.

"Haaretz", media "mainstream" Israel lain (Sabtu, 13 September 2025) menyebutkan dalam satu "headlines"nya. Qatar telah mendesak UAE (negara GCC lain) agar menutup Kedutaan Besar-nya di Tel Aviv (Israel).

Solidaritas GCC nampaknya akan semakin menguat, dalam KTT Arab-Islam, Minggu (14 September-Senin 15 September 2025) di Qatar,  hari ini.

BACA JUGA:Cegah Banjir, Ajak Warga Gotong Royong Jaga Kebersihan Lingkungan

Media berpengaruh ini mengingatkan. Dari perspektif Qatar, serangan Israel yang menargetkan Hamas di wilayah mereka. Sebagai bentuk kegagalan AS sebagai pemilik pangkalan besar di negara tersebut.

Bisa jadi, UAE dan Bahrain (GCC). Yang mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel, lewat prakarsa Presiden Trump (Abraham Agree, 2020), akan mengambil sikap tegas. Memutuskan hubungan, atau menarik Dubesnya.

Israel sukar berkelit, menyangkut, mengapa pimpinan politik Hamas ada di Qatar? Setelah "Arab Spring", Presiden AS Barack Obama. Meminta Qatar menampung Hamas (2011), yang bertujuan memudahkan perundingan antara Israel-Hamas.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan