Rujak Solo

Rujak Solo--Tomy

Purbaya sudah menjadi Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Akibatnya, ekonomi sangat lesu. Muncul tagar "Indonesia Gelap". Yang disalahkan: kondisi global.

Padahal ada yang di kendali kita sendiri.

Di awal masa jabatan Presiden Prabowo (Januari-April) pertumbuhan uang beredar membaik.

Maka di akhir April 2025 Purbaya merasa gembira. Indonesia kembali cerah. Tidak akan terjadi krisis.

Tapi di bulan Mei-Juni-Juli-Agustus 2025 ekonomi dicekik lagi --istilah "dicekik" ini diucapkan Purbaya beberapa kali. Pertumbuhan uang beredar kembali menjadi 0.

BACA JUGA:Respons Pelatih Amril Daulay Usai Bawa Timnas Futsal Indonesia Juara CFA International Tournament 2025

Dua mesin ekonomi kita, dua-duanya mati. Bank menaruh uang di bank --di Bank Indonesia.

Pemerintah juga menaruh uang di Bank Indonesia. Di Bank Indonesia uangnya santai-santai --maksudnya: mengendap.

"Padahal pertumbuhan ekonomi kita 90 persen ditentukan oleh domestik," katanya.

Di saat ekonomi seret itu pemerintah justru menyedot pajak lebih banyak. Uangnya masuk BI. Mandeg di situ. "Kalau uangnya kembali beredar sih tidak apa-apa," katanya.

BACA JUGA:Kebutuhan Organisasi, Tingkatkan Pelayanan Terhadap Masyarakat

Maka langkah cepat Purbaya setelah jadi menkeu adalah mengembalikan uang yang mengendap tersebut ke sistem.

Purbaya melihat ada uang pemerintah sebanyak Rp 500 triliun di Bank Indonesia. "Saya sudah lapor Bapak presiden, besok yang Rp 200 triliun akan saya kembalikan ke sistem," katanya.

"Apakah sudah dilaksanakan?" bisik Purbaya ke wakil menteri di sebelahnya.

"Sedang dijalankan," ujar Purbaya seperti mengutip jawaban bisikan itu.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan