Rujak Solo
Rujak Solo--Tomy
Mesin moneter ada di Bank Indonesia. Mesin fiskal ada di Kementerian Keuangan.
"Munculnya tagar 'Indonesia Gelap' dari kesalahan kita itu," katanya.
Kesalahan seperti itu, katanya, muncul setiap tujuh tahun. Sejak krisis moneter 1998-2000. "Padahal harusnya kita tidak boleh lupa," katanya.
BACA JUGA:Rujak Purbaya
Waktu itu terjadi kesalahan yang luar biasa. Dari sisi moneter suku bunga dibuat sangat tinggi, sampai 60 persen. Harusnya peredaran uang menjadi sangat seret. Tapi peredaran uang justru tumbuh 100 persen.
Ternyata kita cetak uang. Lalu apa gunanya suku bunga dinaikkan sampai 60 persen. Yang bikin swasta mati. Sedang naiknya peredaran uang bikin rupiah jatuh. Dua mesin ekonomi mati bersamaan.
"Bukan karena bodoh. Kita memang belum punya pengalaman krisis," ujar Purbaya --tumben, kali ini ada kalimat bijaksana.
Saat krismon itu Purbaya baru menyelesaikan gelar doktor ekonomi dari Purdue University, Indiana, Amerika.
Saat krisis uang ketat 2007, Purbaya ingatkan itu ke tim SBY untuk menghindari terjadi krisis berulang.
BACA JUGA:Waspada dan Teliti Membeli Bahan Pangan
Ia bicara dengan Bright --grup think-thank-nya Presiden SBY. Krisis pun terhindarkan. Sampai muncul istilah ”SBYnomic” waktu itu.
Saran yang sama disampaikan lagi oleh Purbaya pada Presiden Jokowi tujuh tahun kemudian: ketika krisis uang ketat tahun 2015. "Pak Jokowi ambil langkah cepat. Ekonomi jalan lagi," katanya.
Tujuh tahun berikutnya kumat lagi. Pertumbuhan uang beredar ketat lagi. Ingatan yang sama disampaikan Purbaya ke Jokowi. Di saat Covid. Ekonomi selamat.
Pertengahan tahun 2024 terjadi lagi. Kali ini belum periode tujuh tahunan. Uang ketat lagi. Pertumbuhan uang beredar kembali ke angka 0.
BACA JUGA:Waspada dan Teliti Membeli Bahan Pangan