Dhaka, Kota Paling Macet di Dunia
Dhaka, Kota Paling Macet di Dunia-net-kolase
BACA JUGA:Mengungkap Misteri Tradisi Bambu Gila di Maluku: Antara Kepercayaan dan Hiburan
Pertumbuhan pesat penduduk dan urbanisasi telah menciptakan tantangan besar bagi infrastruktur kota.
Dhaka dipenuhi becak, minibus, hingga kendaraan pribadi yang memperlambat arus lalu lintas.
Kecepatan rata-rata kendaraan di kota ini anjlok dari 21 km/jam pada 2007 menjadi hanya 4,8 km/jam pada 2022.
Menurut studi Biro Riset Ekonomi Nasional Amerika Serikat, penumpang di Dhaka terjebak kemacetan rata-rata 46 menit setiap dua jam, atau setara 276 jam terbuang dalam setahun.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Danau Limboto, Ikon Alam Gorontalo yang Mulai Terpinggirkan
Pemerintah Bangladesh berupaya mengatasi masalah ini melalui pembangunan jalan layang, jalan tol, serta proyek transportasi massal seperti MRT dan BRT.
Sayangnya, proyek-proyek ini berjalan lambat dan belum mampu mengurai kemacetan.
Jalan layang yang telah dibangun justru didominasi kendaraan pribadi, sehingga tidak efektif mengurangi beban lalu lintas.
Salah satu penyebab utama kemacetan adalah buruknya sistem transportasi umum.
BACA JUGA:Wisata Alam Gunung Ciremai: Surganya Pecinta Alam dan Petualangan
Bus yang beroperasi di Dhaka mayoritas dalam kondisi tidak layak pakai, kotor, tidak aman, dan sering melebihi kapasitas.
Operator bus bersaing secara tidak sehat, berhenti sembarangan, dan mengemudi ugal-ugalan demi mengejar penumpang.
Upaya perbaikan sempat dilakukan dengan memperkenalkan perusahaan bus kota Dhaka Nagar Paribahan pada 2021–2022.
Namun, program ini gagal akibat persaingan dengan operator swasta yang tetap beroperasi di jalur yang sama.