Thailand Selatan, Warisan Islam di Negeri Mayoritas Buddha
Thailand Selatan, Warisan Islam di Negeri Mayoritas Buddha-net-kolase
BACA JUGA:Gunung Mutis, Jalur Pendakian Yang Sangat Menawan
Namun, kejayaan Kesultanan Pattani mulai tergerus ketika kerajaan Siam (kini Thailand) mulai memperkuat kendali atas wilayah tersebut.
Puncaknya terjadi pada tahun 1909, saat Siam menandatangani Perjanjian Anglo-Siam dengan Inggris.
Dalam perjanjian ini, Pattani dan wilayah sekitarnya diserahkan kepada Siam, sementara Inggris menguasai wilayah yang kini menjadi bagian dari Malaysia.
Pasca integrasi, terjadi ketegangan etnis dan agama yang memuncak pada 1960-an.
BACA JUGA:Raja atau Kaisar, Siapa yang Lebih Berkuasa? Ini Negara-negara Penganutnya
Pemerintah Thailand memberlakukan kebijakan Thaifikasi, yakni upaya asimilasi budaya minoritas dengan budaya dominan Thailand Tengah.
Bahasa Melayu dilarang digunakan secara resmi, ajaran Islam dibatasi di sekolah, dan tindakan represif terhadap komunitas Muslim memicu perlawanan.
Konflik separatis di Thailand Selatan menjadi salah satu yang terlama di dunia, berlangsung lebih dari 60 tahun hingga hari ini.
Meski pemerintah telah melakukan berbagai pendekatan, seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, hingga dialog dengan kelompok separatis, ketegangan masih tetap ada.
Kini, umat Islam di Thailand secara umum dapat menjalankan ibadah dengan bebas.
BACA JUGA:Fakta Mengejutkan! Kekaisaran Ottoman Pernah Kirim Bantuan ke Aceh
Terdapat lebih dari 4.000 masjid, ratusan sekolah Islam, serta lembaga-lembaga keuangan berbasis syariah.
Pemerintah Thailand juga mengangkat Mufti Nasional (Sheikhul Islam) sebagai penasihat resmi dalam urusan keagamaan Islam.
Kehadiran umat Islam di Thailand Selatan bukanlah anomali, melainkan bagian penting dari sejarah panjang kawasan ini.