"Yang paling berharga dari kesepakatan itu adalah proses perundingannya," ujar Hadi.
BACA JUGA:Shin Tae-yong Doakan Timnas Indonesia Sukses di Piala AFF 2026
Dalam proses menuju kesepakatan itu terjadi diskusi keluarga yang sangat intensif. Kadang sampai sangat keras.
Persoalan yang selama itu tidak muncul di keluarga tiba-tiba muncul. Yang selama itu hanya jadi bisik-bisik keluarga dibicarakan terbuka. Dengan demikian potensi konflik di masa depan sudah langsung dicarikan kesepakatannya saat itu juga.
Proses diskusi yang alot biasanya menyangkut "siapa yang disebut keluarga". Apakah menantu termasuk keluarga. Dari praktik selama ini umumnya disimpulkan "menantu bukanlah anggota keluarga".
Yang lebih alot lagi kalau diskusi sudah sampai pada "apakah anggota keluarga boleh bekerja di perusahaan". Kalau boleh bagaimana persyaratannya?
Umumnya mereka sepakat "boleh". Tapi ada syaratnya.
BACA JUGA:Temukan Bukti Baru TPPU
Syarat itulah yang tiap keluarga tidak sama.
Misalnya ada yang mewajibkan punya pengalaman kerja di perusahaan non keluarga paling tidak dua tahun. Ditambah punya pengalaman bekerja di perusahaan keluarga minimal tiga tahun. Tidak bisa, misalnya, anak bos yang baru lulus dari luar negeri langsung ke level atas.
Yang menggembirakan, ujar Hadi, sudah muncul kesadaran bahwa meritokrasi harus diterapkan di antara anggota keluarga. Ini satu kemajuan besar. Tidak lagi anak laki-laki pertama yang harus memimpin perusahaan keluarga. Padahal belum tentu mampu.
Maka siapa yang boleh menjadi CEO perusahaan keluarga juga harus diperdebatkan di proses penyusunan konstitusi keluarga. Umumnya mereka sepakat sebaiknya CEO tetap di tangan keluarga tapi lewat sistem meritokrasi.
BACA JUGA:STKIP Muhammadiyah Pagar Alam Dukung Program Sultan Muda Sumsel
Juga lewat penyiapan yang cukup: pendidikan, pelatihan, magang, mentoring. Dan mentor terbaik adalah founder perusahaan itu sendiri: sang ayah.
Tapi banyak juga yang sepakat CEO tidak harus dari anggota keluarga.
"Dalam kenyataan, diskusi di keluarga itu sangat painful," ujar Hadi.