Yang dilakukan Presiden Habibie adalah mengirim sinyal-sinyal harapan. Ke seluruh rakyat. Ke seluruh dunia. Misalnya janji akan melakukan demokratisasi. Janji itu sinyal.
Tapi sinyal itu akan padam bila janji sebatas janji. Habibie membuktikannya dengan ''kebebasan pers'': bikin surat kabar tidak perlu lagi izin siapa pun.
BACA JUGA:DPMPTSP Pagar Alam Koordinasi dengan Inspektorat Terkait Pengawasan Aset
Janji demokrasi itu juga mewujud dalam kritik yang keras dari pers. Termasuk kritik kepada dirinya. Presiden Habibie tidak baper: ia sudah terbiasa dengan situasi pers seperti itu di Jerman sana.
Saking demokratisnya sampai rakyat Timor Timur pun disuruh memilih: tetap jadi bagian Indonesia atau merdeka. Gara-gara ''sikap demokratis''-nya itu sampai ia sendiri kehilangan jabatan presiden.
Banyak yang marah kita kehilangan satu provinsi. Padahal kalau Habibie tidak memberikan kemerdekaan ke Timtim, presiden-presiden Indonesia berikutnya akan terus seperti berjalan dengan kerikil di dalam sepatunya.
Sinyal independensi Bank Indonesia yang diputuskan oleh tim reformasi ekonomi saat itu juga dijalankan sepenuh hati oleh Habibie: janji yang benar-benar ditepati.
BACA JUGA:Herdman Minta Timnas Indonesia Tak Cepat Puas Usai Hajar Kamboja 5-1
Masih banyak sinyal lain yang dikirim Habibie ke rakyat. Dan semua sinyal itu mewujud dalam pelaksanaan.
Akhirnya kepercayaan pulih. Termasuk kepercayaan kepada Habibie pribadi. Saya ingat betapa sinis para pelaku usaha besar di zaman awal Habibie –antara lain karena dikira akan membawa misi ICMI ke jabatannya.
Memang banyak ''gank'' ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) masuk ke pemerintahan tapi kunci-kunci pemerintahan dipegang teknokrat seperti Boediono, Bambang Sudibyo, Syahril Sabirin.
Lalu sampailah pada kasus Bank Bali. Anda sudah tahu, biar pun Anda masih mberangkang saat itu: ada Bali Gate.
Bank Bali adalah bank yang baik. Nomor empat terbesar di bank swasta Indonesia. Saat krisis, Bank Bali tidak termasuk 15 bank yang ditutup. Justru Bank Bali meminjamkan uang ke bank-bank itu: Rp 1,2 triliun.
BACA JUGA: Pemkot Pagar Alam Terima Audiensi BPJS Kesehatan
Lantaran bank-bank itu ditutup uang Bank Bali nyangkut di sana. Mau menyita aset yang dijaminkan keburu disita oleh badan penyelamat perbankan yang dibentuk pemerintah. Akibatnya Bank Bali dianggap kurang punya kecukupan modal. Kalau saja uang yang dipinjamkan itu bisa balik Bank Bali selamat.
Maka Rudy Ramli cari orang kuat untuk membantu menagihkan. Dipakailah orang seperti pemilik Mulia Group, Djoko Tjandra, untuk menagih lewat cessie. Djoko Tjandra menggunakan orang politik seperti tokoh Golkar Setya Novanto.