Bobotoh Kuning

Jumat 26 Jun 2026 - 15:45 WIB
Reporter : Dep
Editor : Almi

Bobotoh Kuning

Oleh: Dahlan Iskan

KORANPAGARAALAMPOS.COM - Menangnya di Miami, pestanya di Times Square, New York: hampir 2.000 km jauhnya.

Saya sampai sulit menuju hotel di pojokan Times Square itu. Padat. Riuh. Lautan kaus kuning.

Brasil tidak hanya menang 3-0 atas Skotlandia. Brasil sukses besar melewati babak pertama Piala Dunia. Bobotohnya pesta di mana-mana.

BACA JUGA:Razman jadi Penghuni Lapas Cipinang

Tadi malam itu saya pilih kembali ke Times Square naik kereta bawah tanah. Agar cepat sampai. Lebih cepat daripada naik taksi atau Uber. Pun bila diantar Lia pakai mobilnyi. Sekalian ingin tahu apakah ada "kemajuan" di sistem kereta bawah tanah di New York.

Ada. Sedikit. Keretanya lebih bersih. Tidak ada lagi coretan-coretan cat pilox warna warni yang ruwet. Tidak ada lagi sampah. Tapi selebihnya masih sama.

Suara gesekan roda dengan relnya yang bising, stasiunnya yang kusam, tidak adanya eskalator, tangga naik turun di stasiunnya yang sempit. Setelah terbiasa naik kereta bawah tanah di Tiongkok yang serba digital, terasa sekali saya seperti memasuki masa lalu nan jauh.

Sambil menunggu di pinggir rel, bayangan saya langsung ke kejahatan rasial: seorang Tionghoa didorong jatuh ke rel dan dilindas kereta. Copet. Pumukulan. Tapi sekarang sudah lebih aman. Ketika di dalam kereta ada anak muda yang teriak, saya mulai waspada.

BACA JUGA:Perkuat Komitmen Bersama BPJS Kesehatan

Apalagi kakinya nendang-nendang sesuatu. Saya amati ia mabuk atau tidak. Tidak. Para penumpang terlihat biasa saja. Ya sudah. Saya juga bersikap biasa.

Dulu-dulu saya sering melihatnya dari luar. Bisa berfoto dengan patung kerbaunya di pinggir jalan itu pun sudah bangga. Padahal patung kerbau itu masih dua blok dari gedung NYSE.

Jalan raya di depan NYSE memang ditutup untuk lalu-lintas. Separo jalan untuk turis berfoto di depan gedung bursa. Separo jalan lagi untuk kamera-kamera TV dan siaran langsung. Dua ujung trotoarnya untuk pos keamanan: di situ pemeriksaan dilakukan.

Saya harus menunjukkan paspor. Lalu dicek di komputer: apakah nama saya ada dalam daftar yang pada jam itu diizinkan masuk NYSE. Pun Lia dan teman saya dari Beijing. Lia-lah yang mengurus agar saya bisa ke sana: ke pemukulan bel di sesi penutupan perdagangan saham hari itu.

Kategori :

Terkait

Jumat 26 Jun 2026 - 15:45 WIB

Bobotoh Kuning

Kamis 25 Jun 2026 - 14:16 WIB

Tiket Lungsuran

Rabu 24 Jun 2026 - 15:34 WIB

Wani 2727

Selasa 23 Jun 2026 - 17:01 WIB

Manajemen Kancilen

Senin 22 Jun 2026 - 18:06 WIB

Batu Mala