Dengan laporan seperti itu dalam tiga bulan DSI akan tahu: siapa saja pembeli sumberdaya alam Indonesia itu. DSI lantas bisa mulai kontak dengan mereka. Enam bulan ke depan --mulai 1 Desember 2026– DSI yang akan melakukan ekspornya.
Dalam tiga bulan ke depan harusnya pemerintah sudah tahu: seberapa beda nilai ekspor kita dari sebelumnya. Asumsinya: harus beda –harus meningkat nilai tonase maupun nilai dolarnya.
Kalau tidak beda berarti tidak benar sangkaan pemerintah selama ini: para eksporter itu telah menggarong kekayaan alam Indonesia. Yakni lewat tiga cara: jumlah barang yang diekspor ditulis lebih sedikit dari kenyataannya (under invoicing), harga ekspor lebih murah dari harga pasar karena pembeli di luar negeri itu sebenarnya perusahaan milik eksporter sendiri (transfer pricing), lalu dolar hasil ekspornya disimpan di luar negeri.
BACA JUGA:Cegah Resiko Bencana
Kalau pun tiga bulan ke depan belum bisa diketahui secara nyata, akan dilihat tiga bulan berikutnya. Kalau pun tidak ada perbedaan, bisa saja DSI akan kirim intelijen: siapa sebenarnya perusahaan pembeli sumberdaya alam yang diekspor dari Indonesia itu.
Tentu DSI tidak bisa mengambil tindakan hukum: perusahaan itu tidak di Indonesia, semua dokumen ekspor-impornya lengkap. Tapi DSI bisa saja mem-black list perusahaan tersebut. Ia tidak boleh lagi impor SDA dari Indonesia. Dan perusahaan Indonesia yang ekspor akan dipelototi habis-habisan.
Memang baru batubara, sawit, dan ferro alloy yang ekspornya harus lewat satu pintu DSI mulai 1 Desember 2026. Tapi itu saja nilai ekspornya sudah 30 persen dari total ekspor Indonesia.
Dalam kata-kata Menko Airlangga di konferensi pers kemarin, tiga komoditas itulah yang membuat neraca perdagangan kita surplus selama 71 bulan terus menerus.
BACA JUGA:Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ini Penyebab dan Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan eksportir SDA kini diwajibkan merepatriasi 100 persen devisa hasil ekspor ke dalam sistem keuangan Indonesia dengan tingkat kepatuhan penuh.--Anisha Aprilia
Batu bara dan sawit sama-sama menghasilkan USD24,4 miliar. Lalu ferro alloy USD16,4 miliar.
Ternyata besar juga ekspor ferro alloy kita. Setelah saya teliti, dari seluruh ekspor ferro alloy ternyata yang terbesar adalah ferro nickel: 99 persen dari seluruh ekspor ferro alloy. Kita memang ekspor juga ferrosilico dan ferrochrome, tapi amat kecil.
Berarti Presiden Prabowo tidak gentar dengan suara-suara miring mengenai kebijakannya itu. Biar pun ekonomi diguncang dengan anjloknya saham dan nilai rupiah Prabowo jalan terus dengan kebijakan sumberdaya alamnya.
BACA JUGA:Mathew Baker, Proyek Besar Herdman untuk Masa Depan Timnas Indonesia
Menko Airlangga menyebut itu sebagai pelaksanaan UUD 1945, khususnya pasal 33 –sumberdaya alam dikuasai negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Harusnya, kata Menkeu Purbaya, di kesempatan yang sama, pasar modal senang. Laba emiten batu bara, sawit, dan ferro alloy akan meningkat. Itu karena hasil ekspornya meningkat.