Rumah Pala
Oleh: Dahlan Iskan
KORANPAGARALAMPOS.COM - Di pulau Rhun saya juga bertemu Burhan Lohor. Ia punya kebun pala tiga hektare: sekitar 110 pohon.
Semua penduduk Rhun pernah dengar sejarah tukar guling antara Rhun dan Manhattan. Apalagi setingkat Burhan. Ia sarjana ushuluddin dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon.
Saya juga ke rumah Burhan: menghadap pantai. Antara rumahnya dan pantai hanya dipisahkan jalan satu-satunya selebar 1,5 meter di pulau itu dan dua baris pohon.
BACA JUGA:Cara Mengatasi Kurap Agar Cepat Sembuh Nomor 5 Sering Diabaikan Padahal Ampuh Menghentikan Gatal!
Dari teras rumahnya pantai justru terlihat indah di sela-sela pepohonan.
Tidak ada pohon pala di sepanjang pantai. Pohon pala tidak bisa hidup sempurna di pantai: akan rusak karena angin. Maka untuk ke kebun pala kami harus menapaki jalan menanjak menjauh dari pantai.
Awalnya kami menapaki 40 tangga jalan: tidak berat. Anggap saja ini lanjutan dari olahraga senam-dansa sebelum berangkat. Tidak jauh dari pendakian pertama itu ada sekolah SD, masjid besar yang sedang dibangun dan perumahan penduduk.
Sekolahnya rapi, bersih dan terpelihara. Pun rumah-rumah penduduknya. Kami terus menapak menanjak. Ada yang tanjakannya sangat tajam. Jalan setapak itu terbuat dari semen.
motor masih bisa naik sampai masuk ke tengah kebun. Kami pilih jalan kaki.
"Tuh pak, buah palanya banyak," ujar Burhan menunjuk ke atas pohon pala yang masih muda. Saya pun mendongak. Baru sekali ini saya melihat buah pala langsung di pohonnya.
Burhan Lohor menunjuk pada buah pala.--
Di dalam kebun pala rasanya seperti di dalam hutan. Rindang. Sejuk. Pohonnya tidak monokultur. Banyak jenis pohon lainnya. Terutama pohon kenari yang besar-besar. Sangat besar. Menjulang tinggi. Rimbun.