Tapi itu bisa berjalan kalau meritokrasi dilaksanakan di semua level.
Budaya menulis yang akan dikerjakan dan mengerjakan yang telah ditulis memang hanya terjadi di negara maju atau di negara yang ingin maju.
Di negara tertentu sudah banyak juga yang mencoba menulis apa yang akan dikerjakan. Tapi yang sudah ditulis itu besoknya tidak dikerjakan.
BACA JUGA:Chery QQ3 EV 2026, City Car Listrik Murah Rasa Premium, Ini Dia Fitur Canggihnya!
Alasannya banyak. Salah satunya karena muncul tugas dadakan dari atasan.
Maka atasan harus tahu –dari aplikasi– kepada siapa tugas dadakan itu diberikan. Harusnya diberikan kepada bawahan yang rencana kerjanya kalah penting dengan tugas dadakan itu.
Masalahnya: banyak tugas dadakan yang sebenarnya sama sekali tidak penting. Misalnya mewakili atasan untuk membacakan sambutan tertulis.
Di acara-acara tertentu saya sudah mulai melakukan ini: yakni kalau atasan yang kami undang mewakilkan ke bawahannya.
BACA JUGA:Suzuki Karimun 2026 Siap Meluncur: Pakai Mesin Hybrid dan Desain Lebih Sporty!
Biasanya sang bawahan saya bisiki di ruang transit: bagaimana kalau sambutan tertulis itu kami perbanyak dan kami bagikan saja. Tidak usah dibacakan.
Dari pengalaman saya sang bawahan justru senang dengan bisikan saya seperti itu.
Menulis yang akan dikerjakan biasanya sudah banyak yang mencoba. Tapi menuliskan apa yang sudah dikerjakan biasanya banyak yang lupa. Atau takut ketahuan: yang sudah dikerjakan ternyata tidak banyak.
Tidak sebanding dengan gaji bulanan berikut tunjungannya.
BACA JUGA:Daftar Harga Mitsubishi Pajero Sport Diesel 2026 Terbaru: Varian Fitur Yang Jarang Diketahui!
Saya bukan lagi bawahan. Juga bukan lagi atasan. Apalagi istri saya suka masak, sehingga saya tidak perlu masak..
Apakah saya juga disiplin mengerjakan prinsip menulis yang akan saya kerjakan?