Anak Kartasura dan Berau itu turun lebih dulu. Mobil masuk-masuk gang mengantarkan mereka. Sampailah di masjid At-Taqwa di dalam kampung itu. Mereka turun di situ. Lalu mengantar dua penumpang Yaman.
Tinggallah yang terakhir saya dan Amang. Paling jauh. Ke sebuah hotel baru di dekat pelabuhan.
Tapi si Noah masih berhenti sekali lagi. Yakni untuk menurunkan barang yang diikat di atas atap. Rupanya mobil ini juga sekaligus jastip.
Mobilnya sendiri tidak mencerminkan mobil negara miskin. Mobil di Hadramaut umumnya relatif baru. Tidak banyak terlihat mobil tua yang reot.
"Saya lihat banyak mobil bagus-bagus dan baru. Berarti ekonomi sebenarnya baik kan?" tanya saya pada Amang.
"Di sini tidak ada mobil baru. Semua ini mobil bekas dari Dubai. Masih seperti baru. Murah-murah. Bukan karena ekonomi baik tapi karena sangat murah," katanya.
BACA JUGA:Spesifikasi Lengkap Xiaomi Book Pro 14: Layar 2.8K OLED dan Desain Premium!
"Di Indonesia satu rumah bisa punya tiga sepeda motor. Di sini satu rumah bisa punya dua mobil dan satu sepeda motor".
Sampai di sini saya masih belum bisa membuka misteri itu: negara miskin tapi mobilnya banyak. Perlu dua hari lagi untuk bisa menjawabnya. Atau balik ke sana untuk tinggal dua bulan --kalau perusuh Disway mengizinkannya.(Dahlan Iskan)