Tarim Habib

Senin 16 Feb 2026 - 17:22 WIB
Reporter : Edi
Editor : Edi

"Apakah di sini ada keturunan Nabi yang tidak dipanggil habib?"

"Banyak. Biar pun keturunan Nabi tapi kalau ilmunya tidak tinggi tidak akan dipanggil habib," jawab teman Tarim saya itu.

"Anda sendiri keturunan Nabi?" "Bukan. Saya keturunan sahabat Nabi," jawabnya.

BACA JUGA:Wali Kota Pagar Alam Hadiri RUPS Tahunan dan RUPS Luar Biasa di Palembang

"Dari mana seseorang tahu keturunan Nabi atau bukan?"

"Dari silsilah. Di masyarakat Arab ini silsilah itu diceritakan dari kakek ke ayah, ke anak, ke cucu. Ada catatannya. Ada disiplin ilmu nasab di sini," katanya.

Misalnya ada pedagang besar yang keturunan Nabi di Hadramaut. Namanya sangat terkenal. Tapi tidak dipanggil habib karena dianggap bukan ulama tinggi. Mereka dipanggil sayyid. Pokoknya yang tidak memenuhi tiga unsur tadi tidak dipanggil habib: ilmu yang tinggi, punya silsilah dan punya peran besar dalam membantu masyarakat sekitar.

"Di Tarim tidak ada orang yang minta dipanggil habib. Orang-lah yang memanggil beliau habib. Yakni setelah dilihat memiliki tiga syarat tadi", katanya.

BACA JUGA:Armada Sinar Dempo Hadirkan Layanan Pengiriman Paket Praktis untuk Masyarakat

Di Indonesia memang salah kaprah. Pokok wajahnya seperti Arab dipanggil habib. Bahkan saya sendiri memanggil mantan pemain sepak bola berdarah Arab dengan panggilan habib. Dan yang saya panggil habib juga menoleh.

Asal mula ada panggilan habib, katanya, justru dari peran sosial ulama itu sendiri yang sangat besar. Peran sosial itulah yang membuat ulama tersebut dicintai masyarakat. Lalu masyarakat memanggilnya habib --artinya: yang kami sayangi.

Yang jelas di struktur masyarakat Tarim ada empat level: yang tertinggi habib. Level kedua sayyid. Level ketiga dosen, guru, pedagang besar. Level empat orang biasa.

Semua level itu menjalankan syariat Islam yang ketat. Di Tarim rumah tangga adalah pondok. Masjid adalah pondok. Sekolah adalah pondok. Pondok sendiri apalagi.

BACA JUGA:Bank Sumsel Babel Siapkan Hadiah Mobil hingga Elektronik untuk Nasabah

Saya sengaja tidak menelusuri lebih dalam soal perhabiban ini. Saya pilih ke tempat pembuatan "bata" dari tanah. Agak di pinggir kota Tarim. Ziarah bata.

Prosesnya hampir sama dengan di masa kecil saya. Tanah diaduk dengan air. Dijadikan setengah lempung. Bedanya, di Tarim, diberi bahan tambahan: cacahan batang gandum. Diaduk jadi satu.

Kategori :

Terkait

Minggu 03 May 2026 - 16:10 WIB

Istana Garuda

Sabtu 02 May 2026 - 16:02 WIB

Langit Sumur

Jumat 01 May 2026 - 13:52 WIB

Orang Kuat

Kamis 30 Apr 2026 - 15:57 WIB

Listrik Kereta

Rabu 29 Apr 2026 - 15:16 WIB

Buku Kriminalisasi