Asta Cashtry

Jumat 16 Jan 2026 - 18:12 WIB
Reporter : Edi
Editor : Edi

Tentu malam harinya saya langsung membaca buku Cashtry. Isinya serius: mulai dari bagaimana seharusnya pendidikan dokter sampai pendistribusiannya.

Cashtry sendiri dokter ahli kulit dan kelamin. Dia menjabat humas di pengurus besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Karena itu wartawan mengejar Cashtry saat mantan Presiden Jokowi menderita sakit kulit. Yakni setelah kembali dari penugasan mewakili Presiden Prabowo melayat wafatnya Sri Paus ke Vatikan.

Pendapat Cashtry-lah yang kemudian dipercaya secara luas. Bukan pendapat tahayul yang beredar di medsos, misalnya, akibat kena kutukan.

Waktu itu Cashtry memberikan gambaran beberapa kemungkinan. Yang paling kuat adalah akibat penyakit SJS (Stevens-Johnson Syndrome). Itu lebih mendekati kebenaran daripada misalnya karena alergi.

BACA JUGA:Dukung Kota Wisata dan SMA Taruna Nusantara, DPRD Sumsel Usulkan Pembangunan Jembatan Tebat Gheban

Gejala SJS memang mirip alergi. Di mata awam. Tapi di mata ahli seperti Cashtry keduanya beda sekali.

Kemungkinan besar menyebab SJS itu "salah makan obat". Obat yang mengandung allopurinol tidak cocok bagi orang tertentu yang di dalam darahnya mengandung HLA-B*58:01.

Sistem kekebalan tubuh manusia punya mekanismenya sendiri. Melihat ada allopurinol masuk ke tubuh, sistem imun langsung menyerangnya. Sistem imun orang itu mengira yang masuk tadi musuh utama. Lalu diserang keras. Sampai kulit berbercak seperti terbakar. Mulut sariawan.

Sayangnya banyak orang belum tahu tubuhnya sendiri. Yang merasa seperti terkena flu langsung minum obat penurun demam. Padahal ada obat penurun demam yang mengandung allopurinol. Biasanya obat ini diminum oleh orang yang menderita asam urat.

BACA JUGA:Skutik Legendaris Yamaha, New Mio Neo Retro Modern 2026, Prediksi Desain Segar dan Fitur Canggih

Sakit seperti Pak Jokowi itu disebut SJS sejak tahun 1922. Yakni sejak dua dokter ahli kulit Amerika menerbitkan tulisan di jurnal tentang ditemukannya penyakit seperti itu. Nama mereka Stevens dan Johnson.

Kini banyak orang terkena SJS. Cashtry punya klinik penyakit kulit dan kelamin di Jakarta. Sebulan dia hanya berpraktik lima hari --seperti tidak butuh uang. Waktu selebihnya dia habiskan untuk pengabdian dan penelitian. Di mana ada bencana di situ ada Cashtry. Termasuk di Aceh Tamiang yang terkena banjir bandang bulan lalu.

Hanya dari lima hari praktik Cashtry menemukan beberapa kasus SJS. Tapi tahapnya masih sangat awal. Dengan demikian masih bisa disembuhkan?

"Tidak bisa. Tapi karena awal masih bisa dikendalikan," ujar Cashtry.

BACA JUGA:Volkswagen Magotan PHEV, Sedan Plug-in Hybrid Canggih untuk Pasar Tiongkok, Kapan Masuk Indonesia?

Dia tidak heran kalau wajah penderita SJS berubah. "Itu disebut wajah moon face", katanyi. Itu dampak dari obat untuk mengendalikan SJS.

Kalau lagi tidak ada bencana Cashtry terjun ke daerah-daerah kritis stunting. Objek utamanya di kepulauan Nias. Di situ Cashtry bekerja sama dengan gereja BNKP.

Kategori :