Si Pasar Minggu sendirian ke Guangzhou. Kali pertama ke Tiongkok. Tanpa bisa bahasa Mandarin.
Di sana ia mendapat angin surga yang menyenangkan. Maka ia jalani pengobatan di sana: dilakukanlah TEACE/TACE. Pakai kateter. Lewat selangkangan.
BACA JUGA:Jangan Banyak Beretorika
Saya tahu TEACE. Saya pernah menjalaninya dua kali. Untuk TEACE obatnya dikirim lewat kateter. Langsung ke kanker.
Tugas obat itu: memutus seluruh saluran darah yang menuju kanker. Dengan demikian kankernya mati --tidak bisa dapat makanan.
Sebulan kemudian saya diperiksa. Saluran darah ke kanker itu ternyata "nyambung" lagi. Itulah keajaiban saluran darah. Kalau diputus akan selalu mencari jalan baru.
BACA JUGA:Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Pagaralam Jelajahi Keindahan Bali
Dokter melakukan TEACE lagi. Saluran darah baru diputus lagi. Tujuan TEACE itu, dalam kasus saya waktu itu, memang sekadar untuk buying time: jangan sampai meninggal karena kanker di saat menunggu datangnya hati orang lain yang akan menggantikan hati saya --yang penuh kanker dan sirosis. Dengan TEACE itu setidaknya kanker sudah berhenti berkembang selama satu bulan.
Dengan TEACE sekali lagi setidaknya satu bulan berikutnya kanker berhenti berkembang.
BACA JUGA:Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Pagaralam Jelajahi Keindahan Bali
Dengan pergi ke Guangzhou berarti si Pasar Minggu menjalani tiga terapi sekaligus: obat kanker paru yang Rp 40 juta/butir, T-cell di Dr Karina, dan TAeCE di Guangzhou.
Setelah TEACE itu ia boleh pulang. Tiga minggu kemudian harus balik lagi ke Guangzhou. Di-TEACE lagi. TEACE yang pertama membuat ia tidak bisa BAB satu minggu.
TEACE yang kedua membuat seluruh paha sampai selangkangannya melepuh-lepuh selepuh-lepuhnya.
Pun di sekitar anus dan buah zakar. Merata. Melepuh. Sakit. Terasa mranyas panas.
BACA JUGA:SD Muhammadiyah 1 Rayakan Maulid dan Milad Muhammadiyah ke-113
Rasanya saya dulu tidak mengalami sulit BAB maupun melepuh.