"Dokter sangat memerlukan biopsi. Agar lebih diketahui jenis kankernya. Itu penting untuk menentukan jenis obat yang cocok," ujar dokter seperti ditirukan si Pasar Minggu.
Ia ikuti kehendak dokter tersebut. Biopsi dilakukan.
Dari hasil biopsi itulah dokter menyodorkan obat yang cocok: tagrisso. Tergolong obat kanker paru mutakhir.
Baru mendapat persetujuan FDA tahun 2015. Produsennya: AstraZeneca, Amerika. Harganya juga "baru", baginya: Rp 40 juta. Satu tablet. Padahal sebulan 30 tablet.
BACA JUGA:Operasi Sikat II Musi 2025, Polres Pagaralam Berhasil Ungkap 17 Kasus
Setelah sebulan minum tagrisso kankernya tidak lagi lebih menyebar.
Tapi masih ada di mana-mana. Ia masih harus pakai tongkat penyangga badan. Juga masih harus mengenakan jaket berpelat baja di punggungnya.
Si Pasar Minggu terus membaca: artikel apa saja yang terkait kanker paru. Termasuk stemcell. Ahli-ahli stemcell ia datangi. Ia banding-bandingkan. Termasuk Karina dengan T-cell-nyi.
Itulah pilihan yang ia ambil untuk menghilangkan kankernya. Ia diskusi panjang dengan Karina. Ia jadi tahu: bagaimana prosesnya Karina menguasai T-cell.
BACA JUGA:Perkuat Kepedulian Sosial, Dukung Pemenuhan Pendidikan
Yakni sejak menangani kanker ibunyi (lihat Disway: Nikmat Karina). Pun sampai bagaimana Karina mengembangkannya di Indonesia.
Karina memang sangat agresif dalam penggunaan T-cell untuk kanker. Saat melakukan stemcell biasanya kita "hanya" mendapatkan tambahan sel baru sebanyak 50 juta sampai 150 juta sel.
Maksimal 200 juta. Tapi Karina memasukkan T-cell kepada pasien kanker sampai 1,2 miliar cell. Itu sekali suntikan.
BACA JUGA:Wako Terima Penghargaan Kemendagri
Untuk si Pasar Minggu Karina menawarkan 15 kali tindakan. Artinya, 1,2 miliar cell T baru sebanyak 15 kali. Si Pasar Minggu setuju.
Setelah tiga kali tindakan T cell, ia merasa lebih sehat. Lalu ingin mempercepatnya dengan pergi ke Guangzhou. Ke salah satu rumah sakit di sana.