"Sudah kita perbaiki. Tahun ini tidak lagi menggunakan delapan syarikah. Hanya dua saja," ujarnya.
BACA JUGA:Perempuan Harus Jadi Teladan dan Kekuatan Pembangunan
Pembagian tugasnya didasarkan pada lokasi pemberangkatan. Bukan dari nomor urut pendaftaran haji.
Misalnya Jakarta-1, Medan, dan Bandung ditangani EO A. Lalu Surabaya, Makassar, Palembang diserahkan ke EO B. Daerah lainnya dibagi antara A dan B.
Penunjukan dua syarikah itu didasarkan hasil tender terbuka. "Tendernya berlangsung bersih," katanya.
"Banyak yang berusaha lewat jalur belakang?"
BACA JUGA:Polres Pagaralam Siap Gelar Operasi Zebra Musi 2025
"Tentu. Banyak yang ingin bertemu saya. Tapi tidak ada yang saya temui," katanya. Bahkan ia marah karena ada yang datang membawa amplop.
"Tidak sumpek? Kan harus ngemong banyak pihak?"
"Saya nyaman saja. Kalau ada dari kalangan NU yang datang, saya tinggal bilang saya ini jadi menteri tidak mewakili NU.
Demikian juga kalau dari kalangan Muhammadiyah yang datang ke wamen," ujar Irfan. "Kami berdua ini dari Gerindra," tambahnya.
BACA JUGA:Polres Pagaralam Siap Gelar Operasi Zebra Musi 2025
Irfan memang tokoh NU. Sedang Wamen Dahnil Simanjuntak tokoh Muhammadiyah. Tentu banyak juga, di masa lalu, angin itu bukan hanya datang dari samping tapi ada juga petir dari atas.
"Saya tidak tahu. Tahun lalu saya belum menjadi menteri. Yang jelas tahun ini Presiden Prabowo tegas. Tidak boleh main-main," ujar Gus Irfan.
Perjuangan Gus Irfan di Gerindra sudah lama. Gus Irfan ikut mendirikan Gemira --Gerakan Muslim Indonesia Raya, sayap Islam Gerindra.
Pendiri lainnya: Ustaz sejuta umat Zainuddin MZ. Yakni setelah partai yang didirikannya tidak bisa masuk Senayan: Partai Bintang Reformasi.