Mereka meninggalkan bursa dengan loyo dan tertatih seperti bebek pincang yang tidak lagi mampu membebek di belakang rombongan.
BACA JUGA:Selakopi, Pendatang Baru yang Jadi Primadona Pecinta Minuman Kekinian
Di politik istilah itu muncul untuk menggambarkan ''pincangnya'' fungsi seorang presiden yang masih menjabat tapi sudah kalah Pemilu.
Dari situ muncul aturan di mana-mana untuk memperpendek ''presiden lame duck''.
Di Indonesia ''periode lame duck'' itu masih sangat lama: enam bulan. Belum ada perubahan. Di bulan Juli, presiden baru terpilih, Januari baru dilantik.
Masa ''lame duck'' tidak terjadi di periode pertama presiden yang terpilih untuk masa jabatan berikutnya.
BACA JUGA:Pagar Alam Raih Juara I Literasi Budaya di Festival Literasi Sumsel 2025
Andi Widjajanto menjadi bintang di seminar itu. Ia seperti ayahnya: Jenderal Theo Syafi'i. Sulit tersenyum, dingin, hanya bicara seperlunya, tapi analisisnya tajam.
Almarhum Theo adalah jenderal intelektual di TNI yang seumur hidupnya lebih banyak di dunia intelijen.
Di masa purnawirannya, Theo aktif sebagai pemikir dan tokoh PDI-Perjuangan. Pun Andi Widjajanto, kini di DPP partai banteng itu.
Skenario Angsa Hitam itu muncul bukan hanya karena tampilnya Trump. "Stabilitas dunia kini seperti ditentukan hanya oleh tiga orang.
BACA JUGA:Mobil Listrik Hebat yang Bisa Ngecas Sendiri Waktu Hujan Turun
Donald Trump, Xi Jinping, dan Vladimir Putin," katanya. Tiga-tiganya sosok yang sulit diprediksi. Perang dunia ketiga bisa datang dari hubungan tiga orang itu.
Meski Andi menyajikan empat skenario masa depan pertahanan, tapi skenario Angsa Hitam yang banyak dibahas. Terutama soal hubungan tiga pemimpin dunia tersebut.
Tapi Andi justru tidak terlalu khawatir dengan ''ketidaknormalan'' Donald Trump. Di Amerika Serikat sistem demokrasinya berjalan. Ada kontrol pengimbang. Masa jabatan presiden juga ada batasnya: dua periode.
BACA JUGA:PLN Pagar Alam Hadirkan Promo “Power Hero” Diskon 50% Tambah Daya