Juga mantan menteri pertahanan. Kini ia menjadi pimpinan puncak di Universitas Pertahanan (Unhan).
Maka banyak mahasiswa S-2 Unhan yang hadir. Termasuk dari salah satu jurusannya: prodi keadaan krisis. Itulah prodi satu-satunya di seluruh Indonesia.
Saya juga bertemu banyak teman lama. Dua mantan menlu (Hasan Wirajuda dan Alwi Shihab), mantan Menko Polhukam Djoko Suyanto yang kami sebut sebagai ''ketua kelas'' di kabinet Pak SBY, banyak pula jenderal yang dulu olahraga pagi di Monas.
Pertanyaan besarnya: Apakah skenario Angsa Hitam ini gejala permanen atau hanya sementara.
BACA JUGA:Wapres Gibran Bakal Kunjungi Pagar Alam
"Kalau ini gejala sementara, solusinya mudah. Tidak perlu ada upaya apa-apa. Kita tunggu saja sampai tahun 2029," ujar Andi yang ''berani'' meletakkan jabatan sebagai Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) di akhir masa pemerintahan Presiden Jokowi.
Di tahun 2029 itu Donald Trump memang berhenti sebagai Presiden Amerika. Tapi tetap saja tanda tanya: siapa yang akan menggantikannya.
Di sini tetap bisa muncul skenario Angsa Hitam. Apalagi kalau yang terpilih JD Vance, wapres Trump sekarang.
BACA JUGA:BGN Ancam Tutup SPPG yang Lalai
Istilah politik ''Angsa Hitam'' muncul sudah sejak lama: tahun 1600-an. Yakni sejak ada orang Eropa ke Australia. Di benua baru itu Si Eropa terkejut: ternyata tidak semua angsa itu berwarna putih.
Di Australia mereka kaget: menemukan ada angsa berwarna hitam. Berarti tidak benar kepercayaan lama semua angsa itu berwarna putih.
Sejak itulah kejutan-kejutan dalam politik diistilahkan dengan Angsa Hitam. Itu untuk menggambarkan keadaan yang tidak normal.
BACA JUGA:Dunia Tercengang dengan Baterai Ramah Lingkungan yang Bisa Bertahan Lebih Lama dan Lebih Bersih
Bebek juga sering dipakai untuk istilah politik: membebek. Masih ada satu lagi: lame duck. Bebek pincang.
Yakni untuk menggambarkan ketidakberdayaan pemimpin puncak karena hilangnya dukungan. Atau pemimpin yang tidak lagi dipatuhi karena masa jabatannya akan berakhir.
Awalnya istilah ''bebek pincang'' lahir dari bursa saham di Inggris. Yakni untuk menggambarkan orang-orang yang ''kalah'' dalam perdagangan saham.