Anak-anaknya, menantu-menantunya dan cicitnya. Sedang istri Pak The, 84 tahun, duduk di kursi. Dia lebih muda 10 tahun dari suami.
Tidak semua dari enam anak dan enam menantu berjajar di situ. Harus bergantian. Yang memberi penghormatan tidak henti-hentinya. Harus diatur jadwal istirahat keluarga.
Pak The termasuk sedikit orang Tionghoa yang tidak mau ganti nama. Ia seperti ekonom Kwik Kian Gie, wartawan Goh Thjing Hok, atau pengacara Yap Thiam Hien.
Saya lupa bertanya mengapa tidak mau ganti nama. Anak menantunya juga tidak berani bertanya. "Dugaan kami, itu karena papa sangat menghormati orang tua. itu pemberian orang tua," ujar Haryanto, salah seorang menantunya.
BACA JUGA:100 Persen Siswa-siswi SMAN 4 Ikuti TKA
Haryanto mendapat tugas menjadi pimpinan proyek GWK. Ia juga ikut memimpin Alam Sutera --real estate besar yang jadi salah satu ikon di grup usaha Pak The.
Ikon lainnya adalah Argo Pantes --usaha di bidang tekstil. Terintegrasi. Mulai membuat benang, mewarnai, membuat kain sampai mencetaknya. Ekspornya hampir ke seluruh dunia.
Masih ada satu ikon lagi yang Anda pun telah terbawa salah kaprah: paralon. Paralon itu sebenarnya merek pipa yang diproduksi perusahaan Pak The.
BACA JUGA: Gubernur Herman Deru Tekankan Kekompakan ASN untuk Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat
Itulah pabrik pipa bukan besi pertama di Indonesia. Mereknya Paralon. Menguasai pasar. Merek Paralon topnya top.
Kini semua pipa jenis itu, apa pun mereknya, Anda menyebutnya pipa paralon.
Masih banyak usaha lain Pak The. Hampir di seluruh keperluan hidup manusia. Pak The pernah disebut sebagai salah satu dari 25 orang terkaya Indonesia.
Saya dengar Pak The menanamkan modal sampai Rp2 triliun di GWK. Pakai uang Alam Sutera. Itu sangat besar. Tidak main-main.
BACA JUGA:Bantu 1.812 UMKM dengan Sarana Perdagangan
Sampai pun para pemegang saham publik mempertanyakannya. Alam Sutera memang sudah IPO sejak lama.
Pembangunan kembali GWK itu akhirnya juga membawa berkah bagi seniman besar Bali: I.Nyoman Nuarta. Ia pematung kelas dunia.