Kalau terlambat akan sulit. Apalagi kalau air sudah masuk ke paru-paru. Lalu ke jantung. Lalu tidak bisa lagi dipapah. Harus digendong. Akan sangat berat.
BACA JUGA:KPK Kejar Kerugian Negara USD 15 Juta
Sang ayah percaya penuh pada penjelasan saya. Agak berlebihan.
Modal kepercayaan itu lebih pada melihat kenyataan: saya pernah melakukannya. Berhasil. Hingga sekarang.
Sudah 18 tahun. Sang ayah juga percaya penuh saya akan bisa mengatasi segala kesulitan yang akan muncul di T nanti.
Tentu saya tidak ceritakan kasus-kasus gagal transplant --terutama gagal akibat perawatan pasca transplant yang ceroboh.
BACA JUGA:Toko Atik, Surga Perlengkapan Hiking dan Mendaki
Maka sang ayah, sang ibu, dan saudara sekandungnya tidak perlu ikut ke Beijing. Cukup mengantar sampai Juanda. Dengan full doa.
Tapi saya tanya Nisa: siapa yang diinginkan Mas Olik untuk ikut ke Beijing. Demi ketenangan jiwanya saja.
Dan Nisa tahu persis perasaan sang suami. Maka kakak wanitanya harus ikut: Bu Lilik. Berarti suami Bu Lilik juga ikut: purnawirawan Nasruddin asal Lombok Tengah.
Lalu satu lagi yang harus ikut: Abror. Nama lengkapnya Roisul Abror. Sahabat terbaiknya. Soulmate Mas Olik. Ia seorang penghulu. Sibuk sekali. Sehari bisa menilahkan 14 pasangan.
BACA JUGA:Arab Saudi Tolak Lionel Messi Main di Liga-nya Cristiano Ronaldo, Ini Alasannya!
Saya setujui. Itu saja. Kian banyak orang kian repot. Dan lagi tiap orang harus jelas fungsinya.
Saya sendiri mengajak Kang Sahidin. Sudah tahu Beijing. Juga cekatan. Bisa berurusan. Sudah ikut saya sejak sebelum jadi dirut PLN. Banyak ajudan menteri yang lain memanggilnya Kolonel Sahidin.
Waktu diwawancarai Tina Talisa dari TV One saya disuruh mengaku. Live. Ganteng mana dengan Kang Sahidin.
Sebelum kami berangkat ke Beijing saya terus berkomunikasi dengan pihak rumah sakit. Kami tiba Sabtu malam. Apakah di hari Minggu bisa langsung masuk rumah sakit.