Ketika berangkat menuju Beijing saya tanya perasaannyi: seberapa khawatir dia akan keselamatannyi saat hatinyi dipotong nanti. Jika skalanya 1 sampai 10; di level berapa.
"Level satu," katanyi.
"Anda wanita hebat," puji saya. Saya pun lega. Bayangkan kalau Nisa sampai nangis-nangis ketakutan.
Lalu saya bertanya hal yang sama: soal perasaan suami. "Kalau kekhawatiran Mas Olik kira-kira di level berapa?" Olik adalah panggilan sang suami.
BACA JUGA:Ciptakan Karya Ilmiah Sistematis, Bedampak dan Berkualitas
"Mungkin di level lima," jawabnyi.
Saya tidak bertanya langsung ke Mas Olik. Tidak tega. Di perjalanan ini ia di kursi roda. Terlihat menderita. Kesakitan.
Saya hampir tidak pernah bicara dengan Mas Olik. Waktu di rumahnya pun saya lebih banyak bicara dengan ayahnya: Haji Mukri. Mas Olik mendengarkan sambil tergolek di tempat tidur.
Sesak napas. Perutnya membesar. Sirosis hatinya sudah sangat parah. Akibatnya, hati tidak bisa memproduksi albumin.
BACA JUGA:Manfaatkan Program Pemutihan Pajak Kendaraan
Anda sudah tahu: salah satu tugas albumin adalah menahan air agar tidak bocor ke jaringan.
Agar tetap bersama darah. Agar airnya dikirim oleh darah ke ginjal. Dicuci di situ: air kotornya dikeluarkan menjadi air seni.
Dalam kasus seperti Mas Olik, air itu bocor ke mana-mana. Perut pun penuh air. Membesar. Lama-lama perut penderita sirosis akan sangat besar. Mengeras. Kalau diketuk berbunyi seperti tong.
BACA JUGA:Pelaku Curanmor Asal Empat Lawang Diperiksa Satreskrim Polres Pagar Alam, Akui Curi Motor Vario
Napas pun akan sangat sulit. Apalagi kalau bocoran air itu masuk ke paru-paru. Nafas tersengal-sengal. Lalu meninggal.
Saya agak provokatif kala itu: mumpung masih bisa naik kursi roda. Masih bisa dipapah saat masuk ke pesawat. Organ lain masih baik. Masih bisa mendukung kesembuhan lebih cepat.