Sejak saat itu, kota ini berkembang pesat di bawah kekhalifahan Umayyah dan menjadi ibu kota pertama dunia Islam.
Masjid Agung Umayyah, yang berdiri megah hingga kini, merupakan warisan arsitektur agung dari masa ini.
Meskipun kekhalifahan berpindah ke Baghdad, Damaskus tetap memegang peran penting.
bawah Mamluk dan kemudian Ottoman, kota ini menjadi titik strategis militer dan keberangkatan utama para jemaah haji menuju Mekah.
BACA JUGA:Mengenal Tradisi Ngaben Ritual Sakral Pelepasan Jiwa ke Nirwana Masyarakat Bali
Bahkan setelah jatuhnya Kekaisaran Ottoman, Damaskus menjadi pusat perlawanan terhadap pendudukan Prancis dan akhirnya ditetapkan sebagai ibu kota Suriah merdeka pada 1946.
Damaskus dikenal sebagai kota taman karena banyaknya kebun yang diairi oleh Sungai Barada.
Selain itu, kota ini menjadi rumah bagi berbagai komunitas, dari Kristen saat Perang Salib, Yahudi Sephardi, hingga pengungsi Palestina.
Kota ini pun dikenal sebagai tempat lahirnya pedang Damaskus yang melegenda karena kekuatannya dan pola baja yang khas.
BACA JUGA:Gunung Tercantik, Ini 3 Alasan Mengapa Gunung Rinjani Menjadi Pilihan Utama bagi Pendaki?
Tak hanya itu, Damaskus juga menjadi simbol toleransi, pusat pembelajaran Islam klasik, hingga penghasil kain Damas yang terkenal di Eropa abad pertengahan.
Dari reruntuhan Romawi hingga benteng Salahuddin, dari pasar kuno hingga masjid monumental, kota ini menampilkan sejarah panjang yang hidup berdampingan dengan masa kini.
Di tengah segala konflik dan guncangan zaman, Damaskus terus berdiri. Ia bukan sekadar kota tua, melainkan lambang ketahanan peradaban manusia yang tak pernah menyerah pada waktu