RAT bisa berfungsi untuk mencari tempat pendaratan darurat.
Tapi saat pilot mengaktifkan RAT pesawat masih sangat rendah. Begitu RAT diaktifkan pesawat sudah hancur.
Maka di saat naik pesawat dari Denpasar menuju Perth sekarang ini (kemarin pagi) saya teringat kehebatan pilot Garuda yang terbang dari Lombok. Kejadiannya 23 tahun lalu.
Di ketinggian maksimalnya, dua mesinnya mati satu per satu.
BACA JUGA:Penerimaan Jalur Domisili di SMP Negeri 1 Pagaralam Diumumkan
Sang pilot, Kapten Abdul Razak, masih bisa mengendalikan pesawat yang menurun dengan cepat.
Sang pilot melihat ada air di bawah sana. Ia daratkan pesawat itu di sungai Bengawan Solo.
Hanya satu pramugari yang tewas –itu pun karena keburu loncat.
Rasanya kecelakaan di Ahmadabad itu akan berbuntut panjang.
BACA JUGA:Calon Siswa Baru SMP Negeri 2 Pagaralam Wajib Daftar Ulang
Gugatan hukum mulai dilayangkan di Inggris –oleh keluarga penumpang Inggris.
India sendiri mulai melihat sisi sabotase. Langka: Dua mesin mati bersamaan. Kali pertama terjadi.
Banyak spekulasi sudah diabaikan: soal sayap, soal gear pendaratan, soal pasokan bahan bakar.
Semua berfungsi baik. Soal bahan bakar misalnya, pesawat lain tidak terganggu.
BACA JUGA:Jamaah Haji Asal Pagaralam Selesai Laksanakan Lempar Jumrah
Maka fokusnya tinggal ke sistem dalam software atau kesalahan pilot dalam memasukkan komando ke software.