"Tidak".
"Pesanlah makanan apa saja yang Anda suka".
"Tidak".
BACA JUGA:Mazda CX-80 PHEV Laris di Pasar Premium, Ini Spesifikasinya!
Miskin tapi bermartabat. Cocok dengan motto saya dulu. Anda tentu masih ingat apa lanjutan motto "Miskin Bermartabat" itu --yang pernah saya kampanyekan dulu.
Yang disajikan beda dengan yang saya maksud. Telurnya masih pakai kuningnya.
"Tolong sampaikan, yang saya inginkan tidak seperti ini. Jangan pakai kuning telur," pinta saya kepada si Gus.
Pesanan pun datang. Benar. Maka saya sodorkan roti epek yang ada kuning telurnya tadi ke Gus Pemandu. Ia mau makan. Lebih cepat habis dari saya.
BACA JUGA:Ahmad Hirliansyah: Tuntaskan Keluhan Masyarakat Bangun Pagar Alam Lebih Maju
Kami banyak berbincang soal perang di Tigray. Sesekali pembicaraan berhenti. Kami terdiam. Lama. Sopir yang mengantar saya dari Makelle menyerahkan layar HP-nya. Merek Samsung. Saya baca pesan di layar hp itu.
"Kita jangan bicara perang. Yang baru masuk itu tentara," tulisnya.
Saya pun melirik tamu yang lagi makan sayur mentah campur saus dan roti. Makannya cepat. Lalu pergi. Kami mulai lagi bicara soal perang.
"Saya pernah sembunyi di bunker di bawah masjid. Hampir tanpa makan dan minum. Dua hari," ujar Gus Pamandu.
BACA JUGA:Polytron Fox-Series Gandeng ADIRA Finance, Segini Cicilannya Perbulan!
Bunker itu cukup untuk 50 orang. Berdesakan. Tapi tetap saja tidak aman. Tentara masuk ke bunker. Memeriksa mereka. Ketakutan. Tidak ditemukan senjata. Mereka dibebaskan.
Ganti tentara yang menguasai bunker itu. Lengkap dengan persediaan smerekanya.