Tiga Inklusif
Tiga Inklusif--Tomy/Pagaralampos
Tiga Inklusif
Oleh: Dahlan Iskan
KORANPAGARALAMPOS.COM - Hampir pasti peluang Menteri Agama Prof Dr Nasaruddin Umar tertutup untuk bisa terpilih sebagai ketua umum tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Tidak mungkin beliau meletakkan jabatan sebagai menteri untuk mencalonkan diri di Muktamar NU di Jombang minggu depan (27-31 Agustus).
Kian ke sini calon utama yang santer disebut tinggal dua orang: Gus Kikin dari Tebuireng Jombang dan Gus Yahya, incumbent.
BACA JUGA:Review Kawasaki Versys 650: Motor Adventure 2 Silinder yang Nyaman untuk Touring Ditahun 2026!
Melihat bahwa keduanya seperti sedang berhadapan langsung barulah muncul calon lain yang menyebut dirinya "poros tengah": Gus Rozin dari pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jateng.
Tentu sempat muncul calon-calon lain. Tapi sifatnya lebih karena ada yang mendorong untuk maju. Misalnya tokoh Golkar yang juga Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid mendorong KH Zulfa Mustofa.
Beliau adalah ulama yang sempat jadi penjabat ketua umum PBNU di tengah konflik syuriah dan tanfidziyah. Eksistensi "penjabat ketua umum'' ini menguap karena ternyata bukan jalan keluar dari konflik.
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar mendorong kiai dari Jateng, KH Yusuf Chudlori. Nama ini kian hari juga kian surut.
Berarti tiga calon yang kelihatannya akan bersaing ketat: Gus Yahya, Gus Kikin, dan Gus Rozin. Tiga-tiganya ''darah biru'' NU. Semuanya cucu kiai besar di dunia NU. Bahkan tiga-tiganya bisa dibilang tokoh inklusif.
Saking inklusifnya, Gus Yahya (KH Yahya Cholil Staquf) sampai disemprot sebagai antek Yahudi. Gus Yahya telah berjuang sangat keras untuk mengubah NU: agar tidak hanya kaya di akhirat tapi juga bisa kaya di dunia; lewat tambang batu bara. Siapa tahu cita-cita yang belum terwujud itu bisa terjadi di masa kepengurusan periode keduanya.
Gus Kikin? Ia juga sangat inklusif. Gus Kikin (KH Abdul Hakim Mahfudz) yang juga ketua PWNU Jatim adalah kiai yang juga pengusaha migas. Saya tidak pernah menyangka Gus Kikin akhirnya mau pulang kampung dan mau didaulat jadi kiai di Tebuireng, Jombang.