Google Advertisement Below

Dear Cinta

Dear Cinta--Tomy/Pagaralampos

Setiap kali ada surat dari istri Musheng dia antarkan surat itu ke penjara. Sambil bawa makanan untuk Musheng yang telah berjasa menyelamatkan ayahnyi. Musheng minta si gadis membacakan isi surat istrinya. Dari surat menyurat itu si gadis pun tahu betapa murni cinta mereka.

Selama Musheng di penjara tentu tidak punya penghasilan. Musheng juga tidak mau istrinya tahu kalau suaminyi sedang kena musibah. Sang istri sendiri yakin suaminyi baik-baik saja di rantau. Buktinya tiap bulan masih kirim surat dan masih kirim uang dengan jumlah yang sama.

Sang istri tidak tahu kalau yang selalu kirim surat dan uang itu sebenarnya si gadis Nanzhi.

Sekeluar dari penjara Musheng dapat pekerjaan sebagai penarik becak. Becak gaya Thailand. Lama-lama hasilnya bisa untuk menyewa kapal kayu. Musheng pun punya kapal kecil. Ia mulai jadi pengusaha angkutan sungai.

BACA JUGA:Minta Desain Ulang Program MBG BACA JUGA:Minta Desain Ulang Program MBG

Si gadis tahu Musheng sudah punya penghasilan. Sudah bisa kirim uang sendiri. Dia tidak perlu lagi menulis 'surat palsu' ke istri Musheng.

Musibah lagi. Di dermaga kapal itu ada perampokan. Di kegelapan malam Musheng membantu menangkap orang yang merampok perahu di sebelah perahunya. Musheng kalah. Tewas. Dibuang ke laut.

Si gadis anak juragan amat sedih kehilangan orang yang amat dia sayangi. Dia sampai bikin papan arwah (神主牌) Musheng. Papan arwah itu ditaruh di kelenteng. Si gadis sembahyangi terus papan arwah itu secara rutin.

Bertahun-tahun pula gadis Nanzhi selalu kirim surat ke istri Musheng seolah sang suami baik-baik saja. Nanzhi juga terus kirim uang seakan-akan dari suami.

BACA JUGA:Jaga Lingkungan, Pertahankan Nilai-nilai Kearifan Lokal

Ketika usia gadis Nanzhi kian tua dia berada di satu dilema besar: apakah akan tetap terus menulis surat ke istri Musheng –seolah Musheng masih hidup. Atau mulai berterus terang bahwa Musheng sudah lama meninggal dunia.

Dia putuskan: tidak. Dia tidak sampai hati membayangkan betapa sedih istri Musheng. Maka, si gadis tiap bulan tetap kirim uang ke istri Musheng. Disertai surat cinta seperti biasanya. Sang istri juga selalu membalas surat itu.

Pernah uang kiriman itu dipakai sang istri ke kota: untuk berfoto keluarga. Sang istri ingin suaminyi tahu bahwa dia masih tetap cantik dan anak-anak mereka sudah mulai sekolah.

Si gadis sangat sedih setiap kali membaca surat balasan istri Musheng. Melihat foto anak-anak Musheng, si gadis tidak hanya kirim uang tapi juga kirim sepeda. Betapa senang mereka menerima kiriman sepeda. Anak-anak itu pun belajar naik sepeda. Pun sang istri.

BACA JUGA:3 Rekomendasi Motor Sport Touring Paling Ramah Kantong dan Mudah Dikendalikan untuk Perjalanan Jauh

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google