Sakit Jantung
Sakit Jantung --Tomy/Pagaralampos
Mungkin dokter Indonesia sudah waktunya berubah: lebih berani melakukan pemeriksaan awal dengan alat yang lebih canggih (baca: mahal). Dari pada seperti selama ini: pemeriksaan dilakukan secara bertahap dimulai dari sangat awal, pakai stetoskop. Dicoba diberi obat. Kalau tidak sembuh baru disuruh ke lab. Periksa darah. Kalau tidak berhasil juga baru CT Scan.
Akibatnya nama dokter di Indonesia dianggap kurang bermutu dibanding di luar negeri.
Pendapat saya seperti itu saya sampaikan terbuka ketika diminta sebagai pembicara di seminar besar para dokter ahli jantung pekan lalu. Di Jakarta. Lebih 1000 ahli jantung anggota Perki (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia) hadir.
BACA JUGA:Samsung Siap Gebrak Pasar: Galaxy Z Flip8 dan Z Fold8 Resmi Dibuka Pre-Order Mulai 22 Juli
Dari lima pembicara hanya saya yang bukan dokter: Dirut BPJS Kesehatan dr Prihati Pujowaskito, Ketua PERKI dr Ade Meidian Ambari, Ketua Dewan Etik PERKI dr Munawar, Ketua Kolegium Jantung dr Renan Sukmawan. Wartawan senior Desi Anwar jadi moderator.
Di forum itu saya juga mengajukan usul: agar larangan dokter Indonesia mengiklankan diri dicabut. Akibat larangan itu publik tidak tahu siapa saja dokter hebat di Indonesia.
Tidak tahu juga seberapa banyak pasien yang sembuh di tangan mereka. Padahal, di luar negeri dokter berlomba menonjolkan diri atas kemampuan khusus mereka. Nama-nama dokter hebat di Indonesia hanya beredar dari mulut ke telinga.
Perbanyaklah ''iklan'' success story pasien ketika ditangani dokter Indonesia. Dari situ akan muncul rasa percaya pada publik. Sehingga orang seperti Nanik S. Deyang pun bisa merasa pede menjalani operasi jantung di dalam negeri.