Serba Mirip
Serba Mirip--Tomy/Pagaralampos
Yang membuat kadang ingat sudah tidak di Amerika adalah ketika isi bensin: kok murah!
Di Kanada harga bensin bisa 10 persen lebih murah daripada yang termurah di Amerika. Karena itu inflasi di Kanada juga lebih rendah: 3 persen. Sedangkan di Amerika sudah 4 persen.
Harga bensin di Kanada hampir sama dengan di Indonesia: 1,60.
BACA JUGA:Bangun Kebersamaan dan Kepedulian Lingkungan
Anda sudah tahu kenapa kelasnya baru sama kok disebut sangat murah: pendapatan perkapita kita belum USD5.000 tapi sudah mampu membeli bensin dengan harga setara orang Kanada! Lebih hebat bukan? Saya tahu jawab Yea Aina: bukan!
Kalau melihat ke luar mobil rasanya masih di Amerika, di dalam mobil serasa di Beijing. Di sepanjang perjalanan ini saya mulai terbiasa dengan peta-jalan berbahasa Mandarin.
Awalnya, ketika pegang kemudi dari New York sampai ke Woodstock saya pakai peta berbahasa Inggris. Begitu kemudi dipegang teman dari Beijing, peta jalannya diganti berbahasa Mandarin. Pun sampai Buffalo. Ya sudah. Sampai Montreal pun tidak saya ganti: sekalian belajar istilah-istilah lalu-lintas dalam bahasa Mandarin.
Di Tiongkok peta jalan tinggal pilih: pakai bahasa Mandarin atau bahasa daerah di mana Anda sedang mengemudi. Saya belum menemukan peta-jalan di Indonesia yang pakai bahasa Bugis atau Madura.
BACA JUGA:Honda City Facelift Dilengkapi Turbo dan Hybrid, Begini Spesifikasi dan Konsumsi BBM Nya!
Saya baru benar-benar merasa tidak lagi di Amerika ketika tiba di kota Montreal. Rasanya saya sedang berada di Prancis. Nama-nama jalan, nama-nama kawasan ditulis dalam bahasa Prancis.
Memang Montreal sudah masuk provinsi Quebec –yang bahasa utamanya Prancis. Ini kota terbesar di Quebec yang sangat luas itu. Ini kota terbesar kedua di Kanada setelah Toronto: nomor dua dalam arti yang sebenarnya. Bukan seperti nomor duanya Surabaya --begitu jauh jaraknya dari Jakarta. Sampai saya sering bilang Surabaya itu kota nomor 10. Urutan satu sampai sembilannya Jakarta.
Di Montreal saya sengaja pilih tinggal di pusat kota: agar dekat dengan kampus terkemuka, McGill University.
BACA JUGA:Wawako Pagar Alam Hadiri Rakernas XVIII APEKSI di Medan, Perkuat Sinergi Antar Kota
Saya ingin masuk kampus itu. Setidaknya, agar ketika bertemu alumni luar negeri di Indonesia saya bisa bilang: 'Saya juga pernah di McGill'. Itu seperti saya pernah disangka alumni Harvard saat mengatakan ''saya pernah di Harvard''.
Padahal itu bohong. Ups...Itu kebenaran –setidaknya 1 persennya: saya pernah masuk perpustakaan Harvard University dan duduk-duduk lama di situ –melihat buku-bukunya pun sudah silau.