Google Advertisement Below

Mati Lumbung

Mati Lumbung --Tomy/Pagaralampos

Mati Lumbung

Oleh: Dahlan Iskan

KORANPAGARALAMPOS.COM - Dari 10 pengusaha batu bara, yang nakal ada 15. Begitulah sindiran yang sudah lama ditujukan untuk kalangan bisnis emas hitam itu.

Saya pun ikut terpengaruh. Kalau ada teman pengusaha dari Tiongkok yang perlu batu bara saya ingatkan untuk hati-hati. Lalu saya ceritakan humor penuh sindiran itu.

Jenis kenakalannya tidak terhingga. Inilah jenis komoditas berwarna hitam yang melibatkan segala jenis kejahatan yang pernah ada di dunia hitam. Korbannya tidak hanya pembeli di luar negeri.

BACA JUGA:Wamen Ossy Pimpin Pengambilan Sumpah dan Janji 1.322 PNS Baru, Tegaskan Integritas Aparatur Negara

Juga pembeli dalam negeri. Bahkan pemerintah sendiri: under invoicing, transfer pricing, sampai menyembunyikan hasil dolarnya di luar negeri.

Bahkan meski izin tambang itu hanya disebut kuasa tambang –pengusaha hanyalah pemegang kuasa dari pemilik tambang sebenarnya, yakni negara– tapi berani "ngakali" si pemberi kuasa. Misalnya soal kewajiban menyediakan batu bara untuk kebutuhan dalam negeri: dengan mudah mereka mengabaikan. Begitu harga ekspor tinggi, penerima kuasa lebih berkuasa dari pemilik kuasa.

Pembangkit-pembangkit listrik milik negara sendiri bisa kelabakan kekurangan batu bara. Apalagi swasta. Negara begitu mudah diremehkan oleh pemegang surat kuasanya. Ironi yang luar biasa.

Kemarin, misalnya, saya dapat info listrik Jawa-Bali mulai defisit. Dugaan saya banyak pembangkit di Jawa yang mengurangi produksi karena takut stok batu bara habis sebelum batu bara yang baru tiba di gudang.

BACA JUGA:Toyota Fortuner 2020 Bekas Makin Terjangkau, Ini Penyebab Harga Turun dan Kisaran Harga Terbarunya!

Mereka menghemat batu bara yang penting PLTU tidak mati. Begitu mati karena kehabisan batu bara perlu waktu panjang untuk start lagi.

Pemerintah pernah mengenakan denda atas pelanggaran DMO –domestic market obligation– itu. Tapi dendanya kecil sekali. Mereka pilih bayar dendanya sambil tetap mengabaikan kebutuhan dalam negeri. Mereka tega "membunuh" negaranya demi "saya dapat apa".

Baru di pemerintahan Presiden Prabowo, dijatuhkanlah hukuman lebih berat: tahun ini izin produksi batu bara mereka dikurangi. Ada yang dikurangi sedikit, ada yang drastis: tergantung rapor mereka.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google