Google Advertisement Below

Wani Tenan

Wani Tenan--Tomy/Pagaralampos

"Kita perlu orang dari luar kepolisian untuk mempelajari ilmu kepolisian. Agar kepolisian tidak didominasi yang pikirannya dokmatik," ujar Pror Dr Albertus Wahyurudhanto, promotor Wani.

Prof Wahyu pernah menjadi wartawan dan redaktur harian Suara Merdeka, Semarang selama belasan tahun. Disertasi doktor ilmu pemerintahannya di Unpad tentang Satpol PP dan Polri.

Wani sebagai pejabat tinggi Bank BCA memang diserahi mengurus kejahatan perbankan. Berarti harus harus dekat dengan polisi. Dia tahu persis bagaimana penanganan atas pengaduan korban penipuan di bank.

Padahal jumlah pengaduan banyak sekali. "Sehari bisa 1.200 pengaduan," ujar Wani. "Korban yang tidak mengadu lebih banyak lagi," tambahnyi.

BACA JUGA:Jelang Armuzna, Wako Jenguk Jama’ah Haji Lansia yang Sakit

Korban yang tidak mengadu itu umumnya merasa salahnya sendiri. Juga: kalau mengadu kelihatan bego-nya, kok bisa ditipu. Sebagian lagi merasa itu sudah takdirnya karena selama ini merasa kurang beramal.

Dengan adanya AI, penipuan itu lebih banyak lagi. Penipu ada yang mengaku petugas pajak. Atau mengaku pegawai bank. "Bahkan bos BCA sendiri, Pak Armand Hartono, dijadikan objek AI untuk menipu," ujarnyi.

Wani lantas memutar video di layar lebar. Ada sosok Armand muncul di layar. Sosok Armand itu memperkenalkan diri sebagai pemilik Bank BCA dan anak orang terkaya di Indonesia. Si ''Armand'' lantas mengatakan akan bagi-bagi uang Rp 20 juta. "Padahal sosok Armand di video itu rekaan AI," ujar Wani.

BACA JUGA:Rupiah Under Pressure as Global Uncertainty Fuels Demand for US Dollar

"Pak Armand tidak akan pernah mengatakan anak orang terkaya," katanyi.

"AI bikinan orang sini sebenarnya gampang diketahui. Banyak tidak samanya dengan tokoh yang jadi objek," ujarnyi. "Kalau di negara lain hasil AI itu bisa persis aslinya," tambahnyi.

AI memang kian sempurna. Maka meningkat pula penipuan lewat love scam. Sudah tidak ada lagi penipuan gaya ''mama minta pulsa''. love scam terjadi di mana-mana. Sampai banyak yang jatuh cinta pada sosok wanita cantik yang muncul dan mengajak bicara di layar HP. "Padahal wanita cantik itu bikinan AI," kata Wani.

BACA JUGA:Antam Gold Prices Increase on May 25, 2026, Here's the Latest Price

Disertasi Wani lantas menawarkan pola baru dalam penanganan penipuan lewat bank: Cobra Index. Istilah yang dia ciptakan itu terasa sangat nendang. Dilengkapi logo pula: gambar kepala ular kobra yang sedang siap mematuk mangsa.

Cobra-nya Wani adalah singkatan: Collaborative Policing Readiness in Banking Cybercrime Assessment. Intinya penanganan atas pengaduan tidak bisa lagi seperti selama ini. "Kejahatannya seperti lari pakai Ford, penanganannya seperti naik angkot," kata Wani.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google